Page 515 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 515

kepastian hukum kepemilikan atas tanah merupakan salah satu kebutuhan
            yang hakiki. Kepastian hakiki terwujud apabila tidak ada lagi keraguan dan
            kekhawatiran mengenai kepemilikan tanahnya yang sudah terdaftar, baik
            keyakinan dari dirinya sendiri maupun pengakuan dari pihak lain. 74
                 Demikian pula halnya terhadap Hak Ulayat sebagaimana telah di
            bahas di atas, maka sesuai dengan Surat Edaran Kepala BPN RI kepada
            Kakanwil dan Kakantah di seluruh Indonesia Tanggal 4 April 2014
            Nomor 3/SE/IV/2014 tentang Penetapan Eksistensi Masyarakat Hukum
            Adat dan Tanah Ulayat, terhadap tanah ulayat yang sudah ditetapkan
            dengan Peraturan Daerah ditindaklanjuti dengan pencatatan pada peta
            dasar pendaftaran dengan membubuhkan suatu tanda kartografi, dan
            menggambarkan batas-batasnya serta mencatatnya dalam daftar tanah.
            Berdasarkan ketentuan tersebut, terhadap tanah ulayat tidak dilakukan
            pencatatan dalam buku tanah yang dilanjutkan dengan penerbitan
            sertipikatnya. Hal ini dapat dimaknai bahwa tujuan pendaftaran/pencatatan
            tanah ulayat dimaksud bukan untuk tujuan kepastian hukum, karena tidak
            sampai pada penerbitan alat bukti kepemilikan (sertipikat), tetapi ditujukan
            untuk tertib administrasi dan tersedianya data informasi sebagaimana
            tujuan pendaftaran tanah (lihat Pasal 3 PP Nomor 24 Tahun 1997). Adapun
            penjelasannya sebagai ulasan berikut ini.
                 Dilaksanakannya pendaftaran hak atas tanah dengan tujuan kepastian
            hukum, maknanya untuk memberikan kepastian yang menyangkut 3 (tiga)
            hal yaitu status tanah, subyek hak dan obyeknya:


            1)   Kepastian status hukum berupa hak pada tanah tersebut sesuai dengan
                 jenis hak yang dimohon.
                       Bila seseorang memohon HM, HGU atau HGB, maka dengan
                 pendaftaran tanah munculah status hukum atas tanah itu menjadi
                 HM, HGB atau HGU atas nama pemohon yang disetujui. Dengan
                 didaftarkannya tanah seseorang baru ada/lahir HM atas tanah, HGU
                 atas tanah, HGB atas tanah dan hak-hak lainnya. Sebaliknya, jika
                 tidak dilakukan pendaftaraan maka tidak/belum ada HM, HGU,
                 HGB atau Hak Pakai dan lainnya.





                 74 Muchthar Wahid, Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah, Republika, Jakarta,
            2008, hal. 3


            484      Hubungan Keagrariaan
   510   511   512   513   514   515   516   517   518   519   520