Page 520 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 520

dan hak kelola. HM, HGU, Hak Pakai, dan HPL merupakan
                        status tanah yang dikenal dalam hukum pertanahan Indonesia,
                        sedangkan “hak kelola” merupakan istilah baru yang tidak lazim
                        dalam hukum positif pertanahan Indonesia.
                             Berdasarkan uraian di atas, maka dalam mekanisme
                        pendaftaran tanah ulayat yang diatur oleh Perda Nomor 6 Tahun
                        2008 berimplikasi terhadap berubahnya status hukum tanah
                        ulayat, yang bertolak belakang dengan asas utama tanah ulayat.
                   c)   Jika pemegang haknya bukan orang, tetapi lembaga (organisasi)
                        berarti harus ada penunjukan dari pemerintah, seperti halnya
                        badan hukum pada umumnya. Contohnya badan hukum
                        perdata, atau badan keagamaan, misalnya terhadap tanah
                        masyarakat adat Bali yang digunakan untuk tempat sembahyang
                        (pura) maka subyek haknya adalah lembaga “ Pura” itu sendiri,
                        misalnya Pura Besakih, dan lainnya.


             2)    Kepastian obyek tanah ulayat
                        Kepastian tentang tanah atau obyek haknya, berkaitan dengan
                   kepastian dimana letak tanah, berapa luasnya dan bagaimana batas-
                   batasnya. Kiranya mudah dipahami, bahwa orang menginginkan
                   kepastian juga mengenai hal-hal tersebut, karena tidak adanya
                   kepastian tanahnya itu akan mudah menimbulkan sengketa di
                   dalam pemanfaatan dan penggunaan atas bidang tanah tersebut.
                   Untuk itulah diperlukan adanya kegiatan teknis yaitu pengukuran
                   dan pemetaan setelah dilakukan penetapan batas-batas bidang tanah
                   (tanah ulayat).
                        Dengan demikian, perlu adanya tindak lanjut putusan MK
                   35 tersebut yang diwujudkan melalui undang-undang, penguatan
                   organisasi dan struktur kelembagaan masyarakat hukum adatnya.
                   Agar  dapat dilakukan pendaftaran tanah, perlu ada Peraturan Daerah
                   tentang Penetapan Masyarakat Hukum Adat dan Tanah Ulayat, yang
                   merupakan kewenangan darti Pemda setempat, yang didasarkan
                   hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar hukum adat, masyarakat
                   adat yang bersangkutan, lembaga swadaya masyarakat, dan instansi
                   yang terkait. Dalam draf RUU Pertanahan, BPN mengusulkan agar
                   ketentuan mengenai tanah ulayat/hak ulayat masyarakat hukum adat




                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  489
   515   516   517   518   519   520   521   522   523   524   525