Page 614 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 614

Selorohan tersebut tentu bisa menjadi peringatan bagi semua pihak
             yang terlibat dalam administrasi pertanahan, bahwa SIM-TN dapat lahir
             tanpa penelitian lapangan yang semestinya.

                   Cukup banyak SIM-TN yang terbit di area-area terlarang, seperti
             kawasan hutan lindung, kawasan sempadan (termasuk GSB), WKP, dan
             kawasan militer. Padahal tanah di area/kawasan tersebut merupakan tanah
             yang tidak diperkenankan terbit hak atas tanah oleh para pemangku
             kepentingan masing-masing. Sewaktu tim peneliti mengikuti pengukuran
             beberapa bidang tanah yang akan didaftarkan di area yang berbatasan
             dengan hutan lindung di Kelurahan Mamburungan, menurut petugas
             Kantah bidang-bidang tanah tersebut terletak di ’area yang meragukan’,
             apakah termasuk kawasan lindung atau tidak. Keraguan atas ’area abu-
             abu’ ini cukup beralasan karena Peta Rencana Pola Ruang yang telah
             ditransformasi ke dalam sistem koordinat Peta Dasar Pendaftaran oleh
             Kantah tidak representatif atau tidak dapat menyajikan kebenaran
             geometrik-spasial dengan pasti.
                   Di semua daerah di Indonesia, RTRW dituangkan dalam peta
             Rencana Pola Ruang yang disajikan dengan skala kecil 1:25.000 dan dalam
             proyeksi UTM, sebagaimana kebijakan pemetaan nasional yang dikeluarkan
             oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal ) pada
                                                                          3
             tahun 1974. Sementara ini, peta-peta dasar pendaftaran tanah disajikan
             dalam skala besar 1:1.000 dengan proyeksi peta TM-3, sebagaimana
             kebijakan BPN RI pada tahun 1997. Ketidaktunggalan kebijakan pemetaan
             ini perlu disinkronkan dengan mewujudkan ’peta tunggal’ agar diperoleh
             informasi keruangan yang pasti terhadap keabsahan hak atas bidang-bidang
             tanah yang telah lahir dan akan dilahirkan dalam mekanisme pemberian
             hak.
                   BPN dalam melaksanakan pendaftaran tanah bekerja berdasarkan
             kebenaran formal, artinya menerima permohonan kemudian meneliti
             kelengkapan berkas yuridis permohonan tersebut. Jika telah memenuhi
             syarat akan diproses lebih lanjut, tetapi jika tidak lengkap akan
             dikembalikan kepada pemohon untuk dilengkapi. Dalam melaksanakan
             kegiatan penelitian berkas permohonan tersebut, berdasarkan kewenangan
             yang dilimpahkan sebagaimana diatur menurut PMNA/KBPN 3/99.



                   3 Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, sekarang berubah nama menjadi Badan
             Informasi Geospasial (BIG)


                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  583
   609   610   611   612   613   614   615   616   617   618   619