Page 619 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 619

perolehan BPHTB yang dibayar oleh pemohon hak. Pungutan ganda itu
            tentu saja bertentangan dengan asas dan ketentuan yang berkaitan dengan
            perpajakan dan retribusi.

                 Sebelum diundangkannya UU 21/1997 tentang BPHTB, Pemerintah
            telah menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1973
            tentang Pembagian Uang Pemasukan Dalam Rangka Pemberian Hak Atas
            Tanah. Pasal 2 peraturan itu menyatakan bahwa kepada penerima hak atas
            pemberian suatu hak atas tanah Negara oleh pejabat yang berwenang, wajib
            membayar uang pemasukan kepada Negara dan harus dibayarkan kepada
            Kas Negara dan Kas Pemerintah Daerah dengan perincian pembayaran
            sebagai berikut:

            a.   Sebesar 40% dari jumlah uang pemasukan disetor kepada Kas Negara;
            b.   Sebesar 40% dari jumlah uang pemasukan disetorkan kepada Kas
                 Daerah Provinsi setempat;
            c.   Sebesar 20% dari jumlah uang pemasukan disetorkan kepada Kas
                 Daerah Kabupaten/Kota setempat.


                 Ketentuan tersebut berlaku sampai diterbitkannya UU 21/97
            tentang BPHTB pada tanggal 29 Mei 1997, yang mulai berlaku pada
            tanggal 1 Juli 1998, yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah
            Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1997 tentang Penangguhan
            Masa Berlakunya UU 21/97 tentang BPHTB. Dengan demikian, sejak
            1 Juli 1998 semua biaya permohonan hak atas tanah Negara maupun
            biaya administrasi pendaftaran tanah dihapuskan, dengan alasan untuk
            menghindari adanya pungutan ganda yang dibayarkan oleh masyarakat
            pada objek bidang yang sama.
                 Ketentuan tentang penghapusan biaya sertipikat tanah itu berlangsung
            sampai dengan tanggal 21 Agustus 2002, yaitu dengan diterbitkannya
            Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2002 (PP 46/2002) tentang Jenis
            dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada
            Badan Pertanahan Nasional. Berdasar PP itu, setiap permohonan hak
            atas tanah Negara di samping dikenakan BPHTB juga dikenakan biaya
            Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berupa uang pemasukan
            kepada Negara dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah.
                 Dengan demikian, pada periode yang sama terdapat 3 (tiga) macam
            pungutan yang berbeda pada satu jenis kegiatan yang sama, yaitu: 1)



            588      Hubungan Keagrariaan
   614   615   616   617   618   619   620   621   622   623   624