Page 615 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 615

Dalam bekerja, instansi pertanahan tidak menyatakan palsu atau tidak
            palsu. Kakantah maupun Kakanwil tidak berhak untuk menyatakan surat-
            surat kelengkapan berkas permohonan yang dilampirkan oleh pemohon
            adalah palsu atau tidak. Jika terdapat surat rekomendasi palsu dari Pejabat
            yang mendasari lahirnya hak, maka instansi pertanahan tidak mengambil
            alih ketidakbenaran surat tersebut, atau instansi pertanahan tidak dapat
            dipersalahkan atas lahirnya hak atas nama seseorang. Kesalahan akan
            dikembalikan kepada siapa yang membuat surat palsu tersebut, dan BPN
            dapat membatalkan hak atas tanah yang telah lahir dan status tanahnya
            kembali menjadi seperti semula.
                 Dalam praktiknya, jika terjadi kesalahan dalam penerbitan hak
            oleh BPN, maka pihak BPN akan turut menjadi salah satu tergugat. Atas
            dasar itu, banyaknya kasus SIM-TN yang lahir tidak prosedural telah
            menimbulkan kegalauan di lingkungan Kantah. Contoh sepenggal keluhan
            atas kekhawatiran yang dialami:

                 ”Dalam melayani permohonan (pendaftaran tanah), kami pasrah saja dan
                 mengandalkan doa. Ya... mau gimana lagi, kan nggak bisa kita menolak
                 permohonan dari masyarakat, pelayanan (pertanahan) kan harus tetap
                 jalan...”.
                 Rasanya sangat beralasan kegalauan yang dirasakan Kantah. SIM-TN
            dengan subjek penguasaan fiktif dalam program pengadaan tanah untuk
            pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kelurahan Juata
            Laut merupakan contoh nyata bahwa SIM-TN ternyata rawan manipulasi.
            Kasus itu mencuat pada tahun 2011, ketika oknum Panitia Pengadaan
            Tanah membuat sekitar empatpuluhan SIM-TN dengan mengatasnamakan
            beberapa warga. Beberapa di antaranya sebenarnya tidak berhak. Ternyata
            dalam perkembangannya muncul beberapa warga lain yang komplain,
            bahwa mereka juga berhak atas ganti rugi yang akan diberikan. Setelah
            diusut penyidik, ternyata telah terjadi tindak manipulasi dan korupsi
            yang melibatkan aparat Pemko dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga
            pemerintah kota, bahkan seorang pejabat setingkat eselon IV di lingkungan
            Kantah juga telah ikut menjadi terpidana pada tahun 2013.
                 Lahirnya kebijakan SIM-TN sebenarnya itikhad baik dari Pemko
            untuk mengantisipasi penguasaan liar atas tanah Negara, pengendalian
            ini perlu dilakukan karena seiring dengan perkembangan, penguasaan-
            penguasaan atas tanah di Kota Tarakan tidak mudah untuk dikontrol.


            584      Hubungan Keagrariaan
   610   611   612   613   614   615   616   617   618   619   620