Page 679 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 679
Penjabaran lengkapnya adalah sebagai berikut, Sila Ketuhanan Yang
Maha Esamemberikan landasan bahwa kajian agraria harus mendasarkan
diri pada moral, dimana Tuhan-lah sesungguhnya yang menjadi pemilik
dan penguasa atas semua sumber daya agraria yang ada di muka bumi.
Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, artinya kajian agraria itu harus
bersifat manusiawi dan adil, dimana antara manusia satu dengan yang lain
tidak boleh ada yang mempunyai kedudukan atau hak yang lebih tinggi.
Ketiga, persatuan Indonesia, ini memberikan landasan bahwa kajian
agraria merupakan salah satu pilar dari nasionalisme, bahwa setiap
kebijakan agraria harus sejalan dengan nafas nasionalisme. Ini senafas
dengan pemaparan di muka mengenai tiga jenis tanah air sebagaimana
dijelaskan Daoed Joesoef, dimana pengertian agraria memiliki tautan
dengan soal patria. Lalu sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, ini adalah dasar-dasar
mengenai demokrasi ekonomi, bahwa setiap orang, meski dia itu miskin
ataupun lemah, tetap harus diikutsertakan dalam tiap pembuatan kebijakan
agraria dan berhak atas sumber daya agraria. Dan yang terakhir, sila kelima,
keadilan sosial, prinsip ini sudah jelas dengan sendirinya, bahwa seluruh
kajian agraria harus berorientasi kepada keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Jadi, kalau lima sila itu kita peras secara analitis, sila pertama dan
kedua itu menjadi dasarnya, yaitu moral dan kemanusiaan; sila tiga dan
648 Ilmu Agraria

