Page 683 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 683

dan politik diskursus gerakan sosial–kemasyarakatan, serta uji falsifikasi
            dan verifikasi di level keilmuan dan eksistensial kehidupan. Tentu ini
            merupakan fakta yang tak bisa diabaikan dalam mengkaji filsafat/bangun
            keilmuan agraria.
                 Dalam jalur ini, misalnya, kita bisa menyebut temuan riset Ahmad
            Nashih Luthfi (2011) untuk tesis masternya di Jurusan Sejarah UGM.
            Dalam risetnya, ia telah menggali, menelusur, memetakan genealogi
            pemikiran sekolompok ilmuwan—meminjam istilah Ben White—
            “Indonesian Agrarian Studies” dari IPB Bogor, yang dikomandoi oleh
            Profesor Sajogyo beserta tokoh lain seperti Soediono M.P. Tjondronegoro,
            Gunawan Wiradi,  dan Pudjiwati Sajogyo yang kemudian ia namai sebagai
            “Madzab Bogor” (Luthfi, 2011: 253–4). Riset ini berusaha melacak
            trajektori wacana pembangunan pedesaan (yakni dalam diskursus Kajian
            Agraria secara luas) pada masa kolonial, sampai pada mengidentifikasi,
            memetakan, dan membaca ulang pemikiran dua ilmuan sosiologi pedesaan
            “madzab Bogor”—yakni Sajogyo dan Gunawan Wiradi sebagi wakil
            kelompok ini—untuk mengeksplisitkan body of knowledge yang ditelorkan.
                 Dari dua ilmuan yang dikaji mewakili “madzab” tersebut, Luthfi
            menemukan bahwa dalam mengkaji masalah kemiskinan di indonesia,
            dua ilmuan ini tidak hanya memberi “aksi” atau “respon” terhadap isu
            pembangunan yang dijalankan Soeharto, bahkan terlebih mengafirmasinya,
            melainkan juga melakukan “kritik” bahkan “aksi kreatif” atau “ide
            alternatif”, dan “counter argumen” terhadap mainstream pembangunan
            (ibid: 262). Dengan kelebihan Sayogjo yang memiliki ciri empiris dan
            mikroskopis dalam riset–risetnya dan kelebihan Gunawan Wiradi yang
            lebih makro serta kepandaian artikulasinya ke ranah publik, kedua orang
            ini telah menampik tuduhan terjadinya “kemandegan ilmu–ilmu sosial”
            yang berlangsung di Indonesia (Ibid: 270).
                 Dua ilmuan ini, menurut Luthfi, mempunyai inti pemikiran yang
            saling beririsan yang mengumpul dalam konsep “kesadaran mengagraria”
            dan menempatkan reforma agraria sebagai agenda bangsa berkesinambungan
            dengan cita–cita para pendiri bangsa. “Madzab Agraria Bogor” merupakan
            aliran pemikiran yang menaruh perhatian pada lapis terbawah masyarakat
            pertanian pedesaan dan senantiasa menyarankan pentingnya penataan ulang
            atas ketimpangan struktur agraria Indonesia (266–7).






            652      Ilmu Agraria
   678   679   680   681   682   683   684   685   686   687   688