Page 687 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 687

dikeluarkan oleh daerah yang menyebabkan Hak Guna Usaha tertentu
            (atau tanpa disertai ijin) terkait pertambangan misalnya disalahgunakan.
                 Silang–sengkarut sektoralisasi yang dijalankan Orde Baru, tidak
            hanya menyebabkan tumpang–tindih hak dan kewenangan kelembagaan
            melainkan juga telah menyebabkan sektoralisasi dalam sejarah pendidikan
            maupun keilmuan agraria di Indonesia. Kita tahu, Akademia Agraria yang
            berdiri di tahun 1963 di Yogyakarta diniatkan untuk mengembangkan
            keilmuan Agraria dalam dimensi kompleksitas yang melingkunginya
            akhirnya—atas  nama kebijakan kelembagaan pemerintah—harus berubah
            dan menyempit menjadi (hanya) Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
            (STPN) di tahun 2013/2014. Perubahan ini sungguh bukan hanya perkara
            berubahnya kata “agraria” menjadi “pertanahan” di tingkat kelembagaan
            semata, melainkan “merenosansi naik turunnya arah politik, pembangunan
            ekonomi, perubahan sosial, dan berbagai kajian pertanahan yang ada selama
            beberapa dekade” (Luthfi, 2011: 16).
                 Sebagai konsekuensinya adalah tidak hanya kerja–kerja kelembagaan
            maupun Kajian Agraria secara umum terkooptasi oleh agenda–agenda politik
            kebijakan yang mengabaikan aspek–aspek keutuhan dan komprehensifitas
            kajian agraria yang telah dirintis, melainkan telah bergesernya komitmen
            penciptaan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat melalui tata–pengelolaan
            dan penguasaan sumber daya agraria yang dulu diperjuangkan oleh para
            pendiri bangsa ini.

                 Sebagai Institusi pendidikan yang didirikan untuk memenuhi
            dan menyokong kelembagaan induknya (yakni BPN), STPN sungguh
            belum keluar atau masih terjebak dari jaring–jaring policy–making yang
            men–drive pengembangan keilmuan agraria yang dijalankan maupun
            dikembangkan oleh sekolah ini. Seturut dengan visi/misi jangka panjang
            yang didesakkan oleh World Bank mengenai kebijakan tanah, pengelolaan,
            dan administrasi, BPN benar–benar telah mengungkung perannya hanya
            pada: (1) mengklarifikasi basis legal kepemilikan tanah, (2) membuat sistem
            pertanahan yang cocok dengan pembangunan modern, (3) meningkatkan
            kualitas dan reliabilitas pencatatan/pendaftaran tanah, (4) perencanaan
            penggunaan tanah secara parsipatoris dan transparan, (5) pengelolaan
            tanah di wilayah kehutanan secara berkelanjutan, (6) memperkuat
            lembaga–lembaga independen dan insentif fiskal untuk pelaksaan legislasi
            tanah (Fauzi, 2009: 78–79). Sebagai turunannya, STPN pun—dalam




            656      Ilmu Agraria
   682   683   684   685   686   687   688   689   690   691   692