Page 684 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 684
Dalam konteks kajian keilmuan agraria, dua tokoh ini juga telah
memberi rintisan kajian dan bangun pengetahuan yang layak kita pikirkan
dengan seksama.
Sajogyo, misalnya, sebagai perintis sosiologi pedesaan Indonesia
dengan sosiologi (kritis) terapannya telah mengembangkan dan
mengkampayekan kerjasama lintas disiplin terkait masalah kemiskinan
pedesaan terkait problem sumber daya agraria di Indonesia. Ia telah
menggabungkan pendekatan Ilmu sosial empiris, humaniora, sosiologi,
ekonomi, dan politik dalam sebuah bangun pengatahuan yang padu (ibid:
185–6). Dari pendekatannya yang berciri emic, deskriptif, pengorganisasian,
dan preskriptif ini, ia tidak hanya melorkan keilmuan yang empiris analitis,
melainkan juga historis hermeunetis, bahkan sosial kritis. Karena bagi
Sajogyo untuk membangun body of knowledge ilmu sosial Indonesia atau
bahkan dalam proses memahami mengubah kenyataan sosial yang digeluti
“tidak hanya cukup dilihat dari satu disiplin ilmu secara ketat dan cara
pandang satu pihak tertentu saja, melainkan dibutuhkan interdisiplineritas
dan kerjasama antar berbagai pihak dan aktor; rakyat itu sendiri, ilmuan,
pemerintah, dan usahawan (ibid: 188).
Sedangkan di sisi lain, Gunawan Wiradi adalah satu dari sedikit
tokoh—untuk tak menyebut satu–satunya tokoh—yang terus–menerus
mendobrak kebekuan kajian Agraria dan menekankan pentingnya Reforma
Agraria—di saat kajian maupun isu reforma agraria sengaja dimasukkan
dalam “peti es” oleh penguasa (Orde Baru). Karena bagi Gunawan Wiradi,
“pemerintah Orde Baru sebenarnya tidak ada niat untuk memberi landasan
kuat bagi pembangunan nasional menuju arah industrialisasi dengan
membenahi struktur agraria terlebih dahulu yang timpang sejak zaman
penjajahan Belanda” (Tjondronegoro, 2008: 48). Bahkan bagi “guru
reforma agraria Indonesia” ini “reforma agraria seharusnya merupakan dasar
strategi pembangunan nasional secara keseluruhan” (Wiradi 1990: 3 dalam
Luthfi, 2011: 246). Dengan gagasannya tentang Land Reform by leverage
(usaha perubahan struktur penguasaan tanah tertentu yang diprakarsai
oleh petani secara terorganisir), ia merupakan inspirasi bagi siapapun yang
menekuni secara intens isu–isu agraria di Indonesia (250).
Dalam kajian Agraria serta sumbangsihnya bagi akumulasi
pengetahuan, Gunawan Wiradi dianggap telah—seperti tertulis dalam
penyataan yang diberikan oleh Senat Akademik IPB dalam penghargaan Dr.
Ilmu Agraria Lintas Disiplin 653

