Page 692 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 692

making yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rentang panjang proses
             bernegara kita.
                   Pada akhirnya proses pelembagaan maupun policy making seperti
             yang dijalankan STPN, BPN, Kementerian kehutanan, ESDM, pertanian,
             perikanan, dan masalah agraria lain mengalami proses sektoralisasi dan
             pengerdilan baik secara kelembagaan maupun keilmuan—dalam hal ini
             teoritisasi kajian/ilmu agraria awal seperti dirumuskan oleh para pendiri
             bangsa ini.
                   Pada akhirnya, universitas, akademi, ataupun sekolah yang dibentuk
             yakni STPN akhirnya tunduk pada logika policional, alih–alih pada
             perkembangan diskursus ilmiah sebagai syarat sehat dan bekerjanya sistem
             keilmuan. Seperti telah dijelaskan dimuka, Ilmu Agraria menyempit dalam
             urusan pertanahan dan pertanian—yakni tercermin dari berubahnya
             Akademi Agraria Yogyakarta dan berubah menjadi Sekolah Tinggi
             Pertanahan Nasional (STPN)—dan akhirnya kajian agraria tersektoralisasi
             ke dalam banyak sektor yang tidak saling menyapa, baik di tingkatan kajian,
             kelembagaan, policy–making, maupun wewenang, hak, dan kewajiban dari
             tiap sektor.
                   Namun begitu sejak zaman Reformasi bergulir di Indonesia—yakni
             era keterbukaan yang seharusnya memungkinkan kita untuk menata
             dan merumuskan ulang secara lebih jernih baik kajian agraria secara
             luas maupun carut–marut sektoralisasi kelembagaan maupun kebijakan
             agraria—kita masih (sedikit) bisa mempunyai harapan. Yakni lahirnya
             ketetapan MPR RI No. IX tahun 2001 tentang Pembaharuan Agraria
             dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (disingkat TAP PA–PSDA), juga
             diluncurkannya Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN) oleh
             BPN pada masa kepresidenan SBY–JK (2004–2009) (Wiradi, 2009: 150).
                   Meskipun begitu, kemajuan ini menyisakan banyak hal yakni
             mengenai simpangsiurnya pemahaman mengenai konsep “Pembaharuan
             Agraria”, dan ketidakkonsistenan baik mengenai saat awal perumusan
             TAP, maupun tumpang tindih peraturan perundangan terkait dengan
             pengelolaan sumber daya agraria. Tumpah tindih tindih tersebut juga terkait
             undang–undang sektoral lain seperti UU Pokok Kehutanan, UU Pokok
             Pertambangan, UU sektoral lainnya yang menyebabkan pengelolaan dan
             pembahruan agraria tidak bisa dikelola dalam payung hukum maupun
             kelembagaan agraria yang memperhatikan aspek kemenyeluruhannya.




                                                   Ilmu Agraria Lintas Disiplin  661
   687   688   689   690   691   692   693   694   695   696   697