Page 693 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 693

Selain itu, PPAN juga dianggap oleh banyak kalangan masih belum
            mencerminkan reforma agraria yang “genuine” dan keberlanjutan Reforma
            Agraria dan rintisan PPAN masih disangsikan dan mendapatkan tanda
            tanya besar (Wiradi: 2009: 154–157).
                 Seluruh perubahan kelembagaan politik agraria di pemerintahan
            sungguh akan mengubah proses pemantapan lembaga keilmuan agraria,
            dan oleh karena itu akan mendinamisir proses pengkajian maupun
            pengembangan keilmuan Agraria di tingkat kelembagaan keilmuan Agraria.
                 Di era Pemerintahan baru Jokowi dan Jusuf Kalla (2014–2009)
            ini kita menemukan harapan baru. Dengan Kabinet Kerja–nya, Jokowi
            membentuk Kementrian Agraria dan Tata Ruang yang menjadi pembeda
            bagi postur kabinet sebelumnya. Dengan dinaikkannya problem Agraria
            ke level kementrian sungguh meniupkan angin segar bagi penyelesaian
            masalah–masalah agraria kronis maupun genting. Sektoralisasi kelembagaan
            yang selama ini dihadapi, tentu bisa kembali ditata, misalnya penggabun
            gan Badan Pertanahan unit pemerintah lain yang mengurusi penataan
            ruang, planologi, perencanaan kehutanan, serta informasi geospasial.
            Juga Kementerian Agraria mempunyai peluang untuk mengkoordinasi
            perencanaan pemilikan, penguasaan, pengusahaan, pemanfaatan seluruh
            tanah tanpa terkotak–kotak dalam kawasan hutan non hutan, hingga detail
            tata ruang dan pencegahan perusakan rencana tata guna tanah, pendaftaran
            dan hak atas tanah seperti halnya selama ini dilakukan. Dengan Visi misi
            “nawacita” secara jelas reforma agraria atau land reform menjadi salah satu
            agenda resmi pemerintahan ini kita patut berharap banyak.
                 Pengelolaan Sektor agraria yang terpisah–pisah di masa–masa
            sebelumnya, seharusnya menjadi PR Kementrian Kementrian Agraria dan
            Tata Ruang Sekarang untuk lebih menyelaraskan aturan dan kelembagaan
            sektor–sektor agraria yang tumpang tinggih dan menjadi pintu dalam
            merumuskan legislasi nasional baru terkait dengan Agraria (Usep Setiawan,
            Kompas 30 Oktober 2014, hal 6).
                 Dengan payung Kementerian Agraria, sektoralisasi kelembagaan,
            kebijakan, undang–undang, bisa ditata ulang. Dalam konteks tersebut,
            Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) sebagai satu–satunya
            kelembagaan resmi terkait Agraria dapat diredifinisi dan ditataulang, atau
            bahkan didesain ulang yang tidak lagi menginduk pada kelembagaan
            sektorial (BPN), melainkan menjadi kelembagaan Keilmuan yang




            662      Ilmu Agraria
   688   689   690   691   692   693   694   695   696   697   698