Page 691 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 691

Kita tahu revolusi Hijau adalah program yang bersesuaian dan klop
            dengan program recovery ekonomi yang dihembuskan organisasi dan
            negara internasional, seperti World Bank, Ausaid, dan lain–lain, pasca
            perang dunia II. Lembaga dunia dan Amerika sengaja mendesakkan isu
            developmentalisme ke negara–negara berkembang agar tak terjerumus
            menjadi negara komunisme dengan tawaran program Revolusi Hijau
            mereka. Pada akhirnya, pada era Orde Baru muncullah “sikap ambivalen”,
            di satu sisi UUPA 1960 sebagai landasan hukum Agraria masih dinyatakan
            sah dan berlaku, namun kebijakan agraria dan penerapannya secara umum
            tidak sesuai dengan semangat dan isi UUPA 1960 (Wiradi, 2000: 91–92).
                 Dalam gegap gempita pembangunan yang didengungkan orde baru
            tersebut, isu reforma agraria meredup, kajian agraria secara kelembagaan
            meredup dan menghilang dari kurikulum. Tak hanya itu, dalam suasanan
            itu juga kementerian Agraria yang sebenarnya menyangkut banyak hal
            tersektoralisasi dengan berbagai direktorat–dirijen, dan badan.
                 Setelah konsep Agraria terkerdilkan dan tersektoralisasi, di era
            Reformasi Kementerian Agraria menghilang di zaman presiden SBY 2006
            dan hanya berlindung dipanyung regulasi perpress. BPN akhrinya hanya
            menjadi lembaga tumpul dan sektoral yang hanya semata mengurusi
            sertifikasi dan pengukuran tanah. Lalu bagaimana mungkin merumuskan
            filsafat ilmu Agraria dari bahan dan materi demikian?


            d.   Premis Awal kelembagaan keilmuan Agraria

                 Studi agraria di Indonesia dalam sejarahnya—seperti telah banyak
            dijelaskan pada paragraf–paragraf terdahulu—selalu dalam posisi
            subordinat di hadapan kebijakan, politik pemerintah, daripada di–drive
            oleh perkembangan internal dinamika yang menghidupi struktur maupun
            bangun keilmuan agraria itu sendiri.
                 Hal ini merupakan deduksi yang sangat mudah dan logis dari
            pengebirian kajian agraria yang sejak awal hingga kini tercermin dari
            pengabaian studi agraria dari sejak zaman kemerdekaan hingga zaman
            reformasi.
            Proses sektoralisasi di tingkat keilmuan maupun kelembagaan dan kebijakan
            telah menciutkan dan mengamputasi kerja dan kajian agraria seperti yang
            terwujud dalam pelembagaan kenegaraan tentang agraria maupun policy–




            660      Ilmu Agraria
   686   687   688   689   690   691   692   693   694   695   696