Page 402 - Konstitusionalisme Agraria
P. 402

Atas dasar hak octrooi, wilayah penduduk pribumi yang
            ditaklukkan oleh VOC dengan kekuatan militer selanjutnya dianggap
            sebagai hak milik perdatanya. Kekuasaan VOC dikemudian hari
            meliputi juga wilayah teritorial yang diperoleh berdasarkan perjanjian
            yang diadakan dengan kesultanan atau organisasi politik lainnya dari
            penduduk pribumi. Tanah-tanah demikian dianggap terhisap ke dalam
            kepemilikan dan menjadi bagian dari  domein VOC (Kambel, E. dan F.
            Mackay, 2003 dalam Termorshuizen-Arts, 2010). Upaya teritorialisasi
            ini dilakukan pertama-tama dengan menyatakan bahwa tanah yang
            dikuasai bukan milik siapa pun, melainkan “milik” penguasa.
                 Kepemilikian VOC terhadap tanah dan sumber daya alam
            lainnya selanjutkan dilakukan dengan melakukan batasan-batasan.
            Setelah batas-batas sebuah wilayah ditetapkan, wilayah itu akan
            menjadi tertutup dan negara melarang siapa pun untuk mengakses
            wilayah tersebut berikut sumber daya alam di dalamnya, kecuali
            jika negara mengizinkan atau memberikan konsesi (Vandergeest
            dan Peluso 1995). Semisal pada tahun 1620 dimana VOC telah
            mengeluarkan larangan penebangan hutan tanpa izin di sekitar
            Batavia. Kemudian pada tahun 1678, VOC telah memberikan hak
            penebangan hutan di wilayah Betawi kepada pengusaha Cina dan
            pada tahun 1690, melarang pembukaan hutan di seberang pulau Nusa
            Kambangan.  Juga diberikan tanah-tanah untuk usaha pertanian dan
                        65
            mencari keuntungan seperti tanah di Depok pada tahun 1705 dan
            penyerahan tanah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada permulaan
            abad 19 (Thamrin dkk, 1935:9).  VOC telah menguasai tanah-tanah
                                         66
            di kepulauan Indonesia sebagai imbalan dari kemenangan perang


            http://www.nederlandsindie.com/hak-oktroi-voc/ (3 Januari 2012).
                 65 Mengenai bagaimana kebijakan dan praktik kolonial dalam penguasaan sumber
            daya di Pulau Jawa, khususnya terhadap hutan dan kawasan hutan baca Nancy Lee Peluso,
            Rich Forests, Poor People: Resource Control and Resistance in Java. (Berkeley: University of
            California Press, 1992).
                 66 Sebuah Komisi Agraria dibentuk pada tahun 1931 oleh penguasa kolonial di Hindia
            Belanda untuk melakukan penyelidikan mengenai hak-hak tanah dari bangsa Indonesia.
            Penyelidikan itu diperlukan untuk memberikan advise kepada penguasa kolonial. Komisi
            Agraria Indonesia yang tersebut terdiri dari M.H. Thamrin selaku ketua, Mr. Moh Yamin
            selaku penulis kesatua, Mr. Koentjoro Poerbopranoto selaku penulis kedua, serta tiga orang
            anggota antara lain R.M.A.A. Koesomo Oetojo, R. Loekman Djajadiningrat, dan Mr. R. Hadi.
            Komisi ini menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 1935.

                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     371
   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407