Page 405 - Konstitusionalisme Agraria
P. 405

di negeri Belanda.  Konstelasi politik di negeri Belanda berubah,
                              68
            kelompok liberal yang mendominasi parlemen Belanda mendorong
            perubahan cara pandang dan kebijakan terhadap Hindia Belanda.
            Kelompok liberal yang menguasai parlemen mendayagunakan
            hukum sebagai alat untuk membangun konstelasi ekonomi
            politik baru yang memberikan peluang lebih besar kepada modal
            swasta untuk berinvestasi di tanah jajahan. Pada masa inilah
            pemerintah kolonial mengeluarkan sejumlah kebijakan yang oleh
            Wignjosoebroto  disebut dengan de bewuste rechtspolitiek, yaitu
            upaya politik hukum yang dilakukan secara sadar untuk mengatur
            daerah koloni (Wignjosoebroto, 2014:51-66).
                 Dalam suasana bewuste rechtpolitiek itulah konsepsi penguasaan
            kolonial atas tanah menjadi semakin kokoh dan dilegalkan melalui
            Domein Verklaring dalam peraturan resmi. Prinsip itu terdapat di
            dalam Boschordonantie 1965, Agrarische Wet 1870, Agrariche Besluit
            dan sejumlah peraturan untuk menerapkan prinsip tersebut di Jawa-
            Madura maupun di luar Jawa-Madura.
                 Prinsip Domein Verklaring pada dasarnya hendak berlaku
            terbatas dan menjadikan negara sebagai penguasaan atas tanah
            sisa, yaitu terbatas dan hanya pada sisa tanah yang tidak ada orang
            yang memilikinya dengan status hak eigendom. Pembatasan
            tersebut telah pula diatur dalam Pasal 2 dan 3 Agrariche Wet bahwa
            Prinsip Domein Verklaring tersebut diterapkan harus dengan tetap
            menghormati “hak-hak dari penduduk pribumi” (van Vollenhoven,
            2013:75). Namun dalam praktiknya penafsiran terhadap cakupan dari
            Prinsip Domein Verklaring itu bermacam-macam dan dipergunakan
            dengan tujuan untuk memperluas rentang kendali penguasa kolonial
            terhadap tanah-tanah penduduk pribumi.
                 Van Vollenhoven dalam pamfetnya yang berjudul De Indonesier
            en Zijn Grond  menyatakan terdapat empat pandangan mengenai
                         69

                 68 Salah satu kritik yang paling fenomenal terhadap sistem tanam paksa hadir dalam
            bentuk novel yang ditulis oleh Eugene Douwes-Dekker, dengan nama samaran Multatuli,
            dalam buku  yang berjudul  Max  Havelaar  of  de  koffie-veilingen  der  Nederlandsch  handel
            maatschappij (Leiden:  Slijthof,  1860).
                 69 Pamflet  De Indonesier en  Zijn Grond dituliskan oleh  Cornelis  van Vollenhoven
            untuk menanggapi rencana pemerintah Belanda yang hendak mengamandemen Pasal 62

               374     Konstitusionalisme Agraria
   400   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410