Page 410 - Konstitusionalisme Agraria
P. 410

Vollenhoven, 2013:75). Penerapan prinsip Domein Verklaring yang
            hendak melakukan unifikasi malah menimbulkan kekacauan,
            kekaburan dan goncangan-goncangan hukum bukan saja karena
            pengabaian terhadap hak-hak penduduk pribumi tetapi juga karena
            penerapannya yang tidak konsisten untuk satu daerah dengan daerah
            lain di negeri jajahan (Van Vollenhoven, 2013:69,72). Lebih lanjut
            Van Vollenhoven menyebutkan bahwa prinsip Domein Verklaring
            merupakan teori yang sudah tua, fiksi yang sudah layu dan lusuh
            serta terbukti gagal dan tidak memberikan daya guna sedikitpun
            (Van Vollenhoven, 2013:76).
                 Prinsip Domein Verklaring inilah yang oleh banyak pejuang
            republik dan dalam pembentukan UUPA dianggap sebagai ‘biang
            keladi’ penindasan terhadap rakyat dan tanah pribumi. Sebab dengan
            prinsip itu, pemerintah kolonial dapat dengan mudah mengklaim
            pemilikan atas tanah dan menyerahkan pengusahaan tanah tersebut
            kepada perusahaan-perusahaan asing untuk melakukan aktivitas
            yang pada akhirnya memperparah kehidupan rakyat di Hindia
            Belanda.
                 Keberadaan prinsip itu telah menjadikannya sasaran kritik
            berbagai pihak yang melawan kapitalisme agraria penguasa kolonial
            Belanda baik oleh penstudi berkebangsaan Belanda maupun oleh
            pejuang kemerdekaan Indonesia. Komisi Agraria pada tahun 1936
            mengeluarkan laporan terhadap kondisi tanah di Hindia Belanda.
            Komisi ini terdiri dari Muhammad Yamin dll. Komisi memberikan
            catatan terhadap Prinsip Domein Verklaring:

                 “Lebih hebat lagi dari keadaan ini, jalah bagaimana dasar itoe (Prinsip
                 Domein Verklaring - Penulis) berlakoe dalam praktik sehari-hari.
                 Ternjata bahwa dasar itoe menentang beberapa hak Indonesia, atau
                 menimbulkan kekatjauan jang sangat berarti. Djadi tidak sadja
                 ketetapan – hak makin bertambah terdesak, melainkan poela dasar
                 itoe menjokong atau menjebabkan perhoeboengan perekonomian
                 jang koerang sempoerna.”








                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     379
   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415