Page 407 - Konstitusionalisme Agraria
P. 407

dipelihara dan tidak ada pemiliknya, seperti halnya barang seseorang
            yang meninggal dunia tanpa ahli waris atau yang warisannya
            ditinggalkan, adalah milik negara.” Keberadaan Pasal 520 KUHPerdata
            pada dasarnya menghendaki negara yang harus membuktikan
            bahwa suatu bidang tanah memang tidak dikelola dan tidak dimiliki
            seseorang. Hanya dalam hal itulah negara boleh mengklaim dirinya
            sebagai pemilik. Van Vollenhoven menyampaikan bahwa biasanya
            dalam suatu perhubungan hukum, maka subjek yang merasa
            mempunyai hak harus membuktikan haknya. Tetapi mengenai
            hak domein pada zaman Hindia Belanda dahulu, kita menjumpai
            keadaan yang sebaliknya. Bukan pemerintah Hindia Belanda yang
            harus membuktikan bahwa tanah itu termasuk domein negara, tetapi
            orang lain yang merasa mempunyai hak eigendom atas tanah tersebut
            yang diharuskan membuktikan haknya (van Vollenhoven, 2013:52-3).
            Prinsip Domein Verklaring versi Hindia-Belanda membalikkan beban
            pembuktian, bukan negara yang harus membuktikan, tetapi orang
            yang mengklaim hak atas tanah yang harus membuktikan dirinya
            sebagai pemilik atau penguasa tanah yang sah. Mengenai hal ini
            kemudian secara sadar maupun tidak telah mewarisi cara pandang
            mengenai pembuktian pemilikan atas tanah dalam relasi antara
            negara dengan rakyatnya pada masa Republik Indonesia.
                 Pemberlakuan prinsip Domein Verklaring dalam kebijakan
            kolonial berimplikasi pada pembagian tanah menjadi dua status,
            yaitu tanah negara bebas (vrij landsdomein) dan tanah negara tidak
            bebas (onvrij landsdomein). Hanya tanah negara bebas yang dianggap
            sebagai domein negara, ke dalamnya tercakup hak keperdataan
            negara atas tanah. Sedangkan tanah negara tidak bebas adalah
            tanah di mana masih melekat hak-hak adat maupun yang di atasnya
            dibebani hak milik mutlak berdasarkan KUH Perdata Belanda
            (Burgerlijk Wetboek).  Lalu bagaimana kedudukan hak-hak atas tanah
            pribumi di luar hukum kolonial ? Tanah-tanah pribumi dijadikan
            sebagai tanah negara tidak bebas (onvrij lands domein) dimana
            negara tidak secara bebas dapat memberikannya kepada pihak lain,
            dengan dibatasi hak rakyat tersebut. Dalam hukum kolonial, hak
            milik adat hanya disebut sebagai hak memakai individual turun


               376     Konstitusionalisme Agraria
   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412