Page 409 - Konstitusionalisme Agraria
P. 409

telah memiliki banyak kontribusi melakukan penelitian-penelitian
            tentang penduduk pribumi, terutama dalam kaitannya dengan
            hukum adat. Cornelis van Vollenhoven, yang kemudian disebut-
            sebut sebagai bapak hukum adat merupakan pentolan terpenting
            dari kubu Leiden yang menaruh perhatian untuk melindungi
            hukum-hukum penduduk pribumi. Sementara itu, di kubu Utrecht
            terdapat Nolst Trenité yang juga merupakan penasihat pemerintah
            kolonial yang menghendaki bahwa sumber-sumber kekayaan di
            negeri jajahan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk
            kepentingan Belanda. Upaya melakukan unifikasi hukum dengan
            mengabaikan hak-hak atas tanah dari penduduk pribumi sekaligus
            tafsir yang mendominasi diskursus mengenai cakupan prinsip
            Domein Verklaring (dalam hal ini tafsir luas dari kubu Utrecth)
            mengakibatkan terserapnya hak-hak ulayat masyarakat hukum adat
            ke dalam domain negara (Safitri, 2012:xviii).
                 Prinsip Domein Verklaring kemudian menjadi dasar bagi
            hubungan hukum antara penguasa dan tanah sebagai hubungan
            kepemilikan, artinya negara memiliki semua tanah yang bukan hak
            eigendom dan hak agrarische eigendom. Dengan kata lain negara
            adalah subjek dari hak milik dan menjadi pemilik tanah (eigenaar).
            Lebih lanjut karena negara adalah pemilik tanah, maka pemberian
            tanah dengan hak eigendom dilakukan dengan cara pemindahan hak
            milik negara kepada penerima tanah (Harsono, 1999).
                 Tidak dapat dipungkiri bahwa prinsip Domein Verklaring
            adalah produk politik yang didorong oleh kepentingan-kepentingan
            tertentu, dalam hal ini terutama kepentingan para kapitalis dan
            pengusaha asing. Pemberlakuan secara eksplisit dalam Agrarische
            Wet dibutuhkan para pengusaha pada waktu itu untuk menjamin
            kepastian hukum yang memudahkan mereka dalam memperoleh
            lahan yang luas demi pendirian dan pengembangan usaha
            mereka di Hindia Belanda. Van Vollenhoven mengkritik prinsip
            Domein Verklaring sebagai bentuk lebih lanjut dari pelanggaran
            hak-hak pribumi yang dilakukan dengan cara lebih sopan dalam
            balutan undang-undang (Van Vollenhoven, 2013:21), namun pada
            bagian lain dia menyebutnya sebagai sebuah kejahatan (Van


               378     Konstitusionalisme Agraria
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414