Page 413 - Konstitusionalisme Agraria
P. 413

negara dengan tanah dalam perumusan UUPA menyampaikan
            ada tiga kemungkinan alternative menyangkut hal ini (Soetiknjo,
            1994:20). Pertama, negara sebagai subyek, yang dapat persamakan
            dengan perseorangan, sehingga dengan demikian hubungan antara
            negara dan tanah itu mempunyai sifat privaat rechtelijk, negara
            sebagai pemilik. Hak negara adalah hak dominium.
                 Kedua, negara sebagai subyek, diberi kedudukan tidak sebagai
            perseorangan, tetapi sebagai negara, jadi sebagai badan kenegaraan,
            sebagai badan yang publiek rechtelijk. Hak negara adalah hak
            dominium juga dan disamping itu dapat juga digunakan istilah hak
            publique. Model ini yang diterapkan dalam prinsip Domein Verklaring
            dimana memposisikan negara sebagai pemilik tanah (eigenaar)
            sekaligus sebagai pihak yang bisa menyewakan dan memberikan
            konsesi kepada swasta.
                 Ketiga, negara sebagai subyek, dalam arti tidak sebagai
            perseorangan dan tidak sebagai badan kenegaraan, akan tetapi
            negara sebagai personifikasi rakyat seluruhnya, sehingga dalam
            konsepsi ini negara tidak lepas dari rakyat, negara hanya menjadi
            pendiri, menjadi pendukung daripada kesatuan-kesatuan rakyat.
            Dalam kaitannya dengan bentuk ini, maka hak negara dapat berupa
            hak kommunes, kalau negara sebagai personafikasi yang memegang
            kekuasaan atas tanah, dan; hak emperium, apabila memegang
            kekuasaan tentang pemakaiannya tanah saja.
                 Soetiknjo menilai bahwa hubungan yang dimaksud pada
            bentuk pertama tidak sesuai dengan sila kedua Pancasila yang
            mengakui sifat dwitunggal manusia. Bentuk kedua juga tidak cocok
            karena hanya mementingkan sifat sosial manusia saja, lepas dari sifat
            individualnya. Soetiknjo menilai bahwa bentuk ketiga yaitu negara
            sebagai personafikasi rakyat bersama merupakan yang paling tepat
            untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia karena sifat sosial dan
            individu manusia mendapat tempat. Oleh karena itu pula, Soetiknjo
            mengusulkan bahwa hubungan hukum antara negara dengan tanah
            bukanlah dalam bentuk hak milik, melainkan dalam bentuk hak
            menguasai (Soetiknjo, 1994:20).




               382     Konstitusionalisme Agraria
   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417   418