Page 408 - Konstitusionalisme Agraria
P. 408

temurun (erfelijk individueel gebruiksrecht) dan kemudian sebagai
            hak menguasai tanah domein negara (Inlands bezitrecht).
                 Mengenai hubungan penguasaan kolonial atas tanah dengan
            penguasaan pribumi menjadi tema perdebatan pada kalangan
            akademisi yang banyak mempengaruhi kebijakan kolonial di negeri
            jajahannya. Pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan
            domain negara termasuk tanah-tanah yang tidak dimanfaatkan
            oleh penduduk pribumi atau termasuk pula tanah-tanah yang
            dimanfaatkan, meskipun tidak intensif? Suatu penafsiran yang
            belum begitu jelas mengenai cakupan keberlakuan dari Prinsip
            Domein Verklaring tersebut kemudian membuat penguasa kolonial
            menyiapkan suatu cara penafsiran yang resmi. Cara itu dilakukan
            dengan meminta G.J. Nolst Trenité, seorang penasihat pemerintah
            dan juga pengajar di Universitas Utrecht untuk menyiapkan sebuah
            memorandum yang kemudian dikenal dengan Domeinnota pada
            tahun 1912. Melalui Domeinnota tersebut, Trenité menafsirkan
            bahwa tanah negara tidak bebas (onvrij landsdomein) berlaku pada
            tanah-tanah yang tidak dimanfaatkan secara permanen. Tanah-tanah
            yang tidak dimanfaatkan secara tetap tersebut, misalkan hutan dan
            perladangan berpindah kemudian dianggap sebagai “tanah liar”,
            “tanah kosong”, atau “tanah terlantar” (woste gronden).
                 Cara pandang demikian kemudian ditentang oleh Cornelis
            van Vollenhoven yang menghendaki adanya pengakuan terhadap
            hubungan-hubungan hukum antara penduduk pribumi dengan
            tanahnya yang sudah berlangsung secara tradisional. Van Vollenhoven
            menyebutkan hubungan hukum penduduk pribumi dengan tanahnya
            tersebut sebagai beschikkingsrecht yang dalam kepustakaan dan
            kebijakan pada masa Republik Indonesia sering disebut sebagai
            hak ulayat. Penentangan inilah yang kemudian menimbulkan
            polemik dan pandangan terkelompok menjadi dua kubu antara
            kubu Leiden vs kubu Utrecht. Kubu Leiden menghendaki tafsir
            yang sempit terhadap Domein Verklaring, sedangkan kubu Utrecht
            sebaliknya.  Universitas Leiden memiliki Fakultas Indologi dan
                       70

                 70 Mengenai debat ini lebih lanjut baca Burns, P. 2004. The Leiden legacy: Concepts of
            law in Indonesia. Leiden: KITLV Press

                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     377
   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413