Page 479 - Konstitusionalisme Agraria
P. 479

tentang Ketenagalistrikan, MK menjelaskan lima bentuk tindakan
            penguasaan negara, yaitu pembuatan kebijakan (beleid), tindakan
            pengurusan (bestuursdaad), pengaturan (regelendaad), pengelolaan
            (beheersdaad) dan pengawasan (toezichthoudensdaad) (Mahkamah
            Konstitusi 2004:332-337). Adapun tolok-ukur pencapaian tujuan
            sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dirumuskan menjadi empat
            yakni  (i) kemanfaatan sumber daya alam bagi rakyat, (ii) tingkat
            pemerataan manfaat sumber daya alam bagi rakyat, (iii) tingkat
            partisipasi rakyat dalam menentukan manfaat sumber daya alam,
            serta (iv) penghormatan terhadap hak rakyat secara turun temurun
            dalam memanfaatkan sumber daya alam.


            Penutup

            Reforma Agraria merupakan suatu operasi yang digerakkan oleh
            pemerintah (terutama melalui kekuatan legislasi, birokrasi, dan
            program aksinya) untuk menjalankan pasal 33 ayat 3, yang berbunyi
            “Bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
            negara untuk dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat”.
                                                                         85
            Dengan pengertian demikian itu, secara langsung saya megajak
            kita masuk kepada pokok persoalan: memajukan percakapan dari
            konstitusi agraria ke konstitusi reforma agraria. Saya mengundang
            untuk memikirkan bagaimana prinsip-prinsip yang terkandung
            dalam UUD 1945 dipakai sebagai rujukan dan pijakan untuk
            memandang dan mengurus masalah-masalah agraria yang melanda
            tanah air Indonesia. Ujian pertamanya adalah mengurus konflik-
            konflik agraria struktural, yang kronis dan meluas di seantero
            nusantara.






                 85 Dalam buku Land Reform in Developing Countries. Property Rights and Property
            Wrong,  Michael Lipton (2009:328) merumuskan  pengertian  land  reform sebagai
            “perundang-undangan  (legislasi)  yang  diniatkan  dan  benar-benar dijalankan  untuk
            meredistribusi kepemilikan, mewujudkan klaim-klaim, atau hak-hak atas tanah pertanian,
            dan dijalankan  untuk memberi manfaat    pada  kaum  miskin dengan cara  meningkatkan
            status, kekuasaan,  dan  pendapatan  absolut maupun  relatif mereka, berbanding  dengan
            situasi tanpa perundang-undangan tersebut.”

               448     Konstitusionalisme Agraria
   474   475   476   477   478   479   480   481   482   483   484