Page 477 - Konstitusionalisme Agraria
P. 477

mengandalkan apa yang secara populer disebut “pembebasan
            tanah”. Pada mulanya, BPN dibentuk untuk meningkatkan kapasitas
            pemerintah dalam melayani kepentingan pengadaan tanah untuk
            proyek-proyek pembangunan itu. Protes rakyat secara sporadis
            meletup di sana-sini. Sejak tahun 1980an para aktivis bantuan
            hukum dan hak asasi manusia membela korban-korban perampasan
            tanah, mengritik kebijakan agraria pemberian konsesi perkebunan/
            kehutanan/pertambangan. Mulai tahun 1995, organisasi-organisasi
            yang bergabung dalam Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
            kembali mempromosikan land reform; dan organisasi-organisasi
            gerakan lingkungan mempromosikan pengelolaan sumber daya alam
            yang adil dan berkelanjutan.
                 Semenjak jatuhnya rejim otoritarian Soeharto di tahun 1998,
            dan mulainya jaman Reformasi, maraklah okupasi-okupasi tanah
            – yang juga terkenal dengan istilah aksi-aksi reclaiming – hingga
            pembentukan organisasi-organisasi gerakan agraria yang bersifat
            lokal hingga nasional; aksi-aksi protes lokal hingga kampanye
            nasional; diskusi-diskusi kecil hingga konferensi nasional; tulisan-
            tulisan di Koran hingga buku-buku serius; dan sebagainya. Pada
            suatu ketika kesemua berhasil beresonansi mendorong lahir
            komitmen baru Negara Kesatuan Republik Indonesia, berbentuk
            TAP MPR No. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan
            Sumber Daya Alam. TAP ini telah memberikan mandat dan arahan
            kebijakan pada Presiden Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan
            Rakyat Republik Indonesia, termasuk untuk mengkaji-ulang
            perundang-undangan yang tumpang tindih dan saling bertentangan
            satu sama lainnya, dan menjalankan kebijakan pembaruan agraria
            dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan sebagaimana
            diurai pada pasal 6 ketetapan MPRRI tersebut.

                 Setelah lebih dari satu dekade, TAP MPRRI No. IX/2001 belum
            mendapatkan perhatian dan komitmen politik tingkat tinggi dari
            Presiden maupun DPRRI untuk mewujudkannya. Alih-alih mandat
            TAP MPR itu dijalankan, pada kenyataannya, yang terjadi adalah
            semakin meluasnya kerusakan lingkungan yang semakin meluas,
            semakin menajamnya ketimpangan penguasaan tanah dan sumber


               446     Konstitusionalisme Agraria
   472   473   474   475   476   477   478   479   480   481   482