Page 472 - Konstitusionalisme Agraria
P. 472
Dasar data dari simplifikasi strategis yang saya lakukan
itu adalah Sensus Pertanian 2013. Sensus Pertanian 2013 itu
menunjukkan rumah tangga tani di Indonesia mencapai 26,13 juta,
yang berarti selama sepuluh tahun telah terjadi penurunan sebesar
5,07 juta rumah tangga pertanian, dibanding dengan hasil Sensus
Pertanian 2003. Ternyata, luas lahan pertanian untuk pertanian
keluarga semakin menyempit, dan arus alih profesi/migrasi petani
ke sektor lain, seperti sektor informal, buruh lepas, Tenaga Kerja
Internasional (TKI), dll, semakin membesar tanpa disertai dengan
meningkatnya luasan lahan yang digarap oleh rumah tangga petani
miskin secara berarti. Antara 2003-2013, terjadi penurunan 5,04 juta
petani yg menguasai dibawah 0,1 ha. Total luas lahan yang dikuasai
petani menyusut dari 10,5% menjadi 4,9%. Jumlah petani kecil
dengan luasan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar dan petani
tak bertanah sebanyak 56 persen (Indonesia) dan 78 persen (Jawa).
Tidak heran, bila petani merupakan kelompok dengan pendapatan
terendah di Indonesia yaitu rata-rata hanya Rp 1,03 juta per bulan
(BPS 2014).
Secara keseluruhan, kita memiliki lebih dari 28 juta Rumah
Tangga Petani (RTP), dengan rata-rata pemilikan lahannya hanya
0,36 hektar. Menengok sedikit lebih dalam, di bagian paling dasar
dari masyarakat desa adalah mereka yang tidak memiliki lahan
pertanian sama sekali. Jumlah mereka adalah 6,1 juta RTP di Pulau
Jawa, dan 5 juta RTP tak bertanah di luar Jawa. Beban bangsa ini
adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani tak bertanah
yang secara agregat saat ini adalah sekitar 32 juta jiwa.
Apakah situasi itu dapat diterima?
Saya mengundang kita melihat situasi sebagaimana
digambarkan di atas sebagai konsekuensi dari pilihan rute perjalanan
moderenisasi di negara-negara paska kolonial yang dirancang pada
permulaannya dengan memacu pertumbuhan ekonomi dengan
merelokasi para petani menjadi para pekerja industri di kota-kota
seiring dengan konversi lahan pertanian menjadi non-pertanian,
pertumbuhan pabrik-pabrik, sektor jasa, dan sistem jual-beli
makanan industri yang berlangsung secara eceran (termasuk yang
Epilog 441

