Page 470 - Konstitusionalisme Agraria
P. 470

konflik-konflik agraria struktural yang kronis, kita tidak bisa
            mengandalkan cara-cara tambal-sulam dengan sekedar mengatasi
            apa yang secara cepat dan darurat, terutama sehubungan dengan
            eskalasi dan ekses yang tampak dari konflik-konflik itu. Dalam upaya
            memahami konflik-konflik agraria seperti ini kita memerlukan
            pendekatan yang adekuat, yang mendasarkan diri pada rantai sebab-
            akibat dan kondisi-kondisi yang melestarikannya.
                 Konflik-konflik atas tanah dan sumber daya alam meletus
            dimana-mana akibat keputusan pejabat publik yang memasukkan
            tanah, sumber daya alam, dan wilayah kelola rakyat setempat ke
            dalam konsesi-konsensi tersebut. Insiden-insiden yang berkenaan
            kerusakan lingkungan, konsentrasi penguasaan tanah, dan
            konflik-konflik agraria, telah coba diurus oleh berbagai badan
            negara, seperti Komnas HAM, badan-badan di parlemen pusat dan
            daerah, disamping secara langsung oleh badan-badan eksekutif
            pemerintahan, seperti pemerintahan daerah, Badan Pertanahan
            Nasional (BPN), badan-badan di Kementerian Kehutanan, dan
            hingga DPR RI. Kegagalan pengurusan insiden-insiden itu berakibat
            bukan sekedar hilangnya akses rakyat agraris atas tanah, sumber
            daya alam, maupun wilayah kelola, tapi juga termasuk ketegangan
            dan pertentangan kelompok berbasiskan kelas, etnis, dan asal-
            usul (misalnya antara golongan pendatang dan “penduduk asli”).
            Kombinasi kesemua ini bahkan dapat menimbulkan hilangnya
            kepercayaan kepada pemerintah, yang pada gilirannya dapat
            membelokan rute perjalanan transformasi dari kesadaran primordial
            berbasiskan tempat territorial dan genealogis menjadi warga negara-
            bangsa Republik Indonesia

















                                                             Epilog     439
   465   466   467   468   469   470   471   472   473   474   475