Page 475 - Konstitusionalisme Agraria
P. 475

1945 kita pergunakan sebagai rujukan utama, dan untuk itu perlu
            dikembangkan konstitusionalisme reforma agraria, satu tahapan
            setelah konstitusi agraria, yang menjadi pokok bahasan dari buku
            yang dtulis Yance Arizona (2014) Konstitusionalisme Agraria.
                 Dari perspektif sejarah, konstitusionalisme reforma agraria
            ini telah dikembangkan oleh panitia-panitia pembentuk undang-
            undang agraria nasional (selanjutnya disebut panitia agraria), yang
            pertama dibentuk adalah pada tahun 1948 oleh Presiden Republik
            Indonesia, Sukarno, dan berakhir dengan diberlakukannya UU No.
            5/1960 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Agraria (UUPA). Prinsip
            baru yang diperkenalkan UUPA adalah konsepsi politik hukum Hak
            Menguasai dari Negara (HMN). Pada pokoknya, HMN memberi
            kewenangan negara untuk mengatur, mengelola dan mengalokasikan
            tanah dan sumber daya alam, menentukan hubungan kepemilikan,
            dan menentukan mana yang legal dan ilegal dalam tindakan hukum
            mengenai tanah dan kekayaan alam. Kewenangan yang bersumber
            dari HMN ini ditabali keharusan etis pengembannya untuk selalu
            bekerja demi mewujudkan tujuan “sebesar-besar kemakmuran
            rakyat”. HMN ini diperhadapkan dengan prinsip Domein Verklaring
            dari Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) 1870.

                 Panitia-panitia agraria ini akrab dengan gagasan “satu abad
            ketidakadilan” dari Cornellis van Vollenhoven (van Vollenhoven 1931,
            1975; Soepomo 1951, 1953). Buku De Indonesiër en zijn Grond (Orang
            Indonesia dan Tanahnya)  karya Van Vollenhoven ditujukan untuk
            mengkiritk politik dan kebijakan agraria pemerintah kolonial. Dalam
            sebuah bab yang berjudul “satu abad ketidakadilan,” ia menuliskan
            bahwa jika alienasi hak-hak tanah dengan tingkatan yang sama yang
            terjadi di Jawa menimpa para petani Belanda, pemerintah secara
            keseluruhan akan bangkit untuk melawan. Van Vollenhoven (1932,
            1975) berpendapat bahwa hukum adat, khususnya yang ia sebut
            “besckicking recht” (hak untuk menguasai dan mengalokasikan
            tanah-tanah adat di antara para anggota komunitas) yang dimiliki
            oleh masyarakat adat harus diperhitungkan oleh pemerintah bila
            pemerintah ini benar-benar berniat untuk merancang kebijakan
            yang praktis dan adil. (Untuk perdebatan mengenai peran Van


               444     Konstitusionalisme Agraria
   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479   480