Page 476 - Konstitusionalisme Agraria
P. 476

Vollenhoven dalam penemuan hukum adat, lihat Burn 1989, 2004
            dan Benda –Beckman 2008, 2011).
                 Gagasan “satu abad ketidak adilan” ini berulang kali diangkat
            oleh para penyusun UUPA untuk menunjukkan dampak-dampak
            yang menghancurkan dari prinsip domain negara yang ditetapkan
            dalam undang-undang agraria kolonial tahun 1870 (Lihat Notonagoro
            1972:70-107; Rachman 2012:7-20).
                 Rezim politik yang berbeda memberi tempat pada kebijakan
            land reform, dan kebijakan anti-land reform,  secara berbeda-beda
            walau semua rejim politik nasional berada di bawah naungan
            Undang-undang Dasar 1945 dan UUPA 1960 yang sama.  Perundang-
            udangan agraria dan pengelolaan sumber daya alam secara strategis
            dibentuk, disiasati, dan dimanfaatkan oleh para penguasa politik
            yang berbeda-beda untuk memenuhi kepentingan dan visi ideologis
            yang berbeda pula.
                 Yang disebut  rejim “Orde Baru”, berkuasa  semenjak
            penggulingan Sukarno tahun 1966, telah secara luas menggunakan
            dan menyalagunakan kewenangan pemerintah untuk memberikan
            konsesi-konsesi pertambangan, kehutanan, dan perkebunan; dan
            untuk pengadaan tanah bagi proyek-proyek pembangunan kawasan
            industri, infrastruktur, dan lainnya. Pemerintah membentuk
            Departemen Kehutanan pada tahun 1978, dan melalui kebijakan
            yang sentralistik Menteri Kehutanan menunjuk lebih dari 120 juta
            hektar “kawasan hutan”, 62 persen dari wilayah daratan Republik
            Indonesia. Selanjutnya, terbentuklah sistem ganda penguasaan dan
            pengelolaan pertanahan, yakni, pertama, apa yang disebut “kawasan
            hutan negara” berada di bawah yurisdiksi Departemen Kehutanan
            berdasarkan Undang-undang Kehutanan no 5/1967 yang kemudian
            direvisi menjadi UU no 41/1999; dan kedua, yang disebut tanah-tanah
            non-hutan yang berada di bawah jurisdiksi UUPA 1960 dikelola
            oleh Direktorat Jenderal Agraria, Departemen Dalam Negeri, yang
            selanjutnya pada tahun 1988 berubah menjadi Badan Pertanahan
            Nasional (BPN).
                 Di wilayah tanah-tanah non-hutan, pemerintahan Orde
            Baru menerapkan kebijakan “tanah untuk pembangunan” dengan


                                                             Epilog     445
   471   472   473   474   475   476   477   478   479   480   481