Page 330 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 330

Epilog


               buku ini, di masa Orde Baru, modernisasi pertanian yang dikenal
               dengan nama Revolusi Hijau, kendatipun mampu membawa In-
               donesia pada pencapaian swasembada beras (tahun 1984), tetapi
               tanpa Reforma Agraria, yang terjadi adalah semakin parahnya
               ketimpangan sosial di daerah, khususnya di ranah pertanian.
                   Pada zaman rezim Reformasi ini, semakin hari pemerintah
               dengan kebijakannya justru, berkebalikan dengan semangat Maz-
               hab Bogor, berhenti pada titik berwacana tentang Reforma Agra-
               ria, dan berlanjut dengan mulus baik lewat DPR maupun Presi-
               den dan menteri-menterinya, mengobarkan semangat anti-Refor-
               ma Agraria. Yakni, antara lain dengan Undang-Undang Penana-
               man Modal yang bisa sampai mendapatkan hak sewa 95 tahun
               bagi investor, Undang-Undang Privatisasi Air, program sertifikasi
               tanah hanya melulu untuk tujuan mempermudah transaksi tanah
               dan kepastian mendapat lahan bagi investor, membolehkan Ta-
               man Nasional ditambang alias dilakukan penebangan hutannya,
               izin penangkapan ikan oleh perusahaan perikanan asing dengan
               pukat harimau (asal bayar), dan lain sebagainya. Melihat kecen-
               derungan yang melawan penyelesaian tuntas dan dasariah Re-
               forma Agraria, maka pemikiran dan rekomendasi Mazhab Bogor
               akan semakin relevan dan menjadi daya tarik besar bagi generasi
               muda dan mereka yang ingin melihat tegaknya masyarakat adil
               dan makmur di bumi Indonesia semakin terealisir, bukan malah
               tersingkir. Buku ini sangat penting dan bermandat untuk tujuan
               tersebut. Dan tentunya menjadi rantai penghubung generasi
               pencinta keadilan dan rakyat terpinggir, khususnya petani gurem
               dan anak-keturunanya dari abad-20 dengan abad-21.


                                                     Yogyakarta, 8 Juli 2011













                                                                        277
   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335