Page 328 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 328
Epilog
lesaikan permasalahan dari akarnya, yakni ketimpangan sarana
produksi. Artinya, untuk petani yang sebagian besar dapat di-
klasifikasikan sebagai petani gurem dan buruh tani adalah peme-
rataan penguasaan tanah, yang untuk ukuran UUPA 1960, ada-
lah seorang petani dengan keluarga berjumlah 7 anggota adalah
seluas 2 (dua) hektar sawah subur, atau kalau tanah kering dua
kali lipatnya, dengan kriteria di daerah padat penduduk seperti
misalnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebagai ikutan dari itu, yang tentu tidak konsisten de-
ngan kesuburan sawah atau tanahnya, adalah program transmi-
grasi. Program transmigrasi mengacu pada ukuran 2 (dua) hektar
tanah (bukan sawah subur di daerah padat penduduk) untuk ru-
mah dan ladang di daerah transmigrasi bagi tiap keluarga trans-
migran, dengan awalan jatah hidup dari pemerintah tiga bulan
sampai satu tahun pertama. Fakta di lapangan, tanah bukan sa-
wah subur, bukan saja ladang kering, tetapi lahan bekas tebangan
kayu hutan yang masih penuh dengan pokol (sisa pokok) kayu
dan boleh jadi tanahnya berpasir atau berasam tinggi alias
berhara rendah. Transmigrasi yang seyogyanya menjadi solusi
kepadatan penduduk di tanah Jawa jika Reforma Agraria dilaku-
kan, justru menjadi “ekspor” tenaga kerja murah ke perkebunan
Luar Jawa yang akhirnya menjadi perataan kemiskinan sebagai-
mana transmigrasi model “kolonialisasi” (bukan kolonisasi) za-
man penjajahan Belanda. Warisan zaman “perkoelian” masa pen-
jajahan Belanda tersebut, pada anak turunnya, masih dengan
mudah kita saksikan di daerah perkebunan-perkebunan negara
maupun swasta di Sumatera Utara—antara lain di Labuhan Batu,
daerah transmigrasi Kalimantan Tengah, maupun Kalimantan
Barat, Ketapang misalnya. Tanpa Reforma Agraria, bukan hanya
program pensejahteraan petani Jawa, Madura, Bali, Lombok,
Lampung, dan anak-keturunannya yang terancam dan hanya
bersifat tambal sulam, tetapi juga program transmigrasi sebagai
turunannya.
Sajogyo dan kawan-kawan dari Mazhab Bogor—yang di satu
pihak berhadapan dengan rezim yang semi otoriter, dan di lain
275

