Page 327 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 327
Francis Wahono
pangan khususnya beras, tidak jarang berbeda nuansa dan bah-
kan esensinya.
Sebagai misal, dalam sebuah pernyataan di harian Kompas
(22 Juli 1983) Prof. Dr. Mubyarto berkesimpulan—mengutip
hasil penelitian BPS—bahwa “Buruh tani, walaupun kenyataan-
nya merupakan kelompok masyarakat tanpa punya tanah, nasib-
nya justru lebih baik daripada petani gurem”. Menanggapi kesim-
pulan tersebut, sebagai salah satu cendekiawan Mazhab Bogor,
Dr. Hc. Gunawan Wiradi menulis dalam Kompas (21 Oktober
1983) sebagai berikut: “Keterangan Mubyarto itu sangat menge-
jutkan, kalau benar buruh tani lebih makmur dari petani kecil,
segala pembicaraan mengenai landreform, kekhawatiran tentang
terjadinya polarisasi masyarakat pedesaan berdasar penguasaan
tanah, dsb., tidak relevan lagi.”. Sebagai contoh lainnya, bila-
mana Mazhab Bogor mempersoalkan keberhasilan program mo-
dernisasi pertanian Revolusi Hijau dengan keberhasilan swasem-
bada beras tahun 1984 yang menyisakan ketimpangan pemba-
gian keuntungan dari keberhasilan produksi di antara petani ber-
lahan luas dan gurem, serta buruh tani, karena tidak terlaksa-
nanya Reforma Agraria; maka Mazhab Bulaksumur—seraya
memberikan tepuk-tangan keberhasilan swasembada beras, me-
nanggapi ketimpangan pedesaan sebagai akibat dari semakin
sempit peluang kerja di sektor pertanian—mengusulkan diper-
banyaknya penciptaan peluang kerja di pedesaan dan pada sektor
non-pertanian di perkotaan, terlebih untuk penduduk muda. Pro-
gram Instruksi Presiden tentang Desa Tertinggal (IDT) awal ta-
hun 1990-an, yang terhenti, tentu gagal, setelah habis subsidi
pemerintah, sebagai contoh dari pelaksanaan usulan tersebut.
Memang secara kebijakan dan materi, program tersebut jauh le-
bih baik dari program zaman Reformasi seperti Bantuan Lang-
sung Tunai (BLT), Beras Miskin (Raskin), dan sebangsanya. Bah-
kan mungkin setingkat dengan program Program Nasional Pem-
berdayaan Masyarakat (PNPM). Namun, tetap saja, tanpa Refor-
ma Agraria, program-program tersebut hanya bersifat tambal su-
lam dan pemadam kebakaran, dan tidak pernah tuntas menye-
274

