Page 322 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 322

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   Salah satu kesinambungan mengenai profil founding people
               yang ditampilkan oleh keduanya adalah terepresentasinya Sajog-
               yo dan Gunawan Wiradi sebagai sosok yang mempraktikkan
               critical collaboration tersebut. Istilah ini bisa jadi tidak ditemukan
               pada masa generasi sebelumnya, sesuatu yang barangkali di luar
               logika mereka dan kepentingan bangsa saat itu. Ranah studi,
               kebijakan, dan gerakan dalam pengalaman para founding people
               dan kedua tokoh ini adalah sebagai kesatuan yang tidak terpisah-
               kan: saling bersinergi.
                   Istilah itu muncul dalam kondisi ketika semuanya saling
               menyimpan prasangka pada suatu masa dan konteks tertentu:
               ketika ranah studi asyik duduk di menara gading; di saat setiap
               kebijakan berdampak pada kesejahteraan rakyat bahkan menim-
               bulkan resistensi; dan dalam kedua kondisi itulah dinamika gera-
               kan cenderung anti gagasan dan anti negara. Critical collabortion
               baru dapat dilakukan jika terlebih dahulu masing-masing ranah
               memahami dan mengakui problematika tersebut.
                   Berpengaruh dan bersambutnya gagasan Reforma Agraria
               sebagai agenda bangsa beberapa tahun terakhir yang digelorakan
               oleh Gunawan Wiradi, bukan hanya karena adanya kesempatan
               politik yang terbuka, runtuhnya keyakinan terhadap ideologi
               pembangunan ala kapitalis, dan tumbangnya rezim otoritarian,
               namun pertama-tama karena tidak henti dan lelahnya ia terus
               menyuarakan pendiriannya itu, memproduksi basis pengetahuan
               tentangnya, kemauan dan kerendah-hatiannya dalam berbagi
               pengetahuan. Sebab, ketika semua kesempatan itu terbuka
               namun tidak ada basis pengetahuan tentang Reforma Agraria
               yang kokoh, maka revitalisasi gagasan tersebut tidak mungkin
               terjadi. Hal-hal inilah yang menjadi kunci dari keberhasilan
               pelembagaan gagasan itu. Bagaimanapun, sebuah gagasan terwa-
               dahi oleh habitus pemiliknya.
                   Selain hal di atas, gagasan Prof. Dr. Ir. Sajogyo dan Dr. HC.
               Gunawan Wiradi, M.Soc. Sc. menjadi “distinctive” bukan karena
               kecanggihan teoretisnya (sophisticated theory), namun karena
               demikian kuat vokasionalitasnya. Keberpihakanlah (vokasional


                                                                       269
   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326   327