Page 319 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 319
Ahmad Nashih Luthfi
yang hilang (missed opportunity) bagi masyarakat luas menuju
transformasi agraria ke arah masyarakat industrial. Jikapun ter-
jadi industrialisasi, ia ditandai dengan pengerahan tenaga kerja
dari pertanian dengan harga murah, yang tercerabut dari ruang
hidup pedesaannya. Industrialisasi merupakan cerita dari nilai le-
bih (surplus value) yang didapat dari proses pencerabutan terse-
but. Cara-cara yang ditempuh itu telah mengakibatkan kerusa-
kan agraria yang akut (kriris agraria). Diperlukan beberapa deka-
de lagi guna mendapati peluang yang sama, dengan catatan, rang-
kaian gagasan modernisasi yang pernah ada dan cenderung betting
to the strong itu harus dirombak guna mengarah pada kelompok
mayoritas rakyat lemah dan dilemahkan.
Agraria atau tanah, di mana di atas atau di bawahnya ter-
kandung tetumbuhan, air, mineral, bahan tambang dan lain-lain,
adalah tempat manusia membangun ruang hidupnya. Hubungan
antara manusia dengan sumber-sumber daya agraria itu tidak
semata-mata man to nature relationship, namun lebih-lebih adalah
man to man relationship. Dengan demikian, agraria adalah “pang-
gung sejarah”. Di atas panggung itu “rakyat” sebagai pelaku da-
lam lakon sejarah, justru seringkali ignored baik oleh ilmuwan,
pengambil kebijakan, dan bahkan kesadaran publik.
“Kesadaran mengagraria” itulah yang menjadi inti dari
pemikiran dua tokoh Mazhab Bogor. Sebagai inti, akar, dan hulu
dari segenap aktivitas manusia, menurut mereka, sudah semesti-
nyalah mengurus agraria dengan merestrukturisasinya dijadikan
agenda utama bangsa.
Persoalan redistribusi dalam Reforma Agraria adalah bukan
pada “mengapa untuk kaum tani” namun justru sebaliknya,
“mengapa tidak untuk kaum tani”, yang notabene adalah mayo-
ritas masyarakat Indonesia. Jika mereka diabaikan, hal itu suatu
ignorance yang luar biasa. Jika kemerdekaan Indonesia adalah
suatu “jembatan emas” bagi kelompok elitenya, maka lebih-lebih
bagi jumlah terbesar masyarakatnya. Dengan memperkuat
fondasi sosial ekonomi masyarakat tani melalui Reforma Agraria,
maka kuat pula kewarganegaraan mereka (citizenship). Kuatnya
266

