Page 321 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 321
Ahmad Nashih Luthfi
Di saat kampus, LSM, dan pemerintah memiliki kelemahan-
nya yang tipikal, yakni pembedaan yang tegas antara ranah studi,
aksi/pendampingan, dan kebijakan (policy), maka kedua tokoh
hadir menembus ketiga ranah itu. Prof. Dr. Ir. Sajogyo memiliki
“sosiologi terapan” yang mampu menjadi “titik temu” berbagai
kepentingan: bagaimana agar ilmu relevan secara sosial baik
dalam definisi masyarakat (pemberdayaan) maupun pemerintah
(kebijakan). Sosiologi terapan Sajogyo bukanlah dalam arti fung-
sional. Lebih tepat ia disebut sebagai sosiologi (kritis) terapan. Ia
memang berorientasi klinis dan problem solving, namun hal itu
dalam rangka emansipatoris terutama menyangkut lapisan ma-
syarakat paling bawah.
Tidak cukup mengherankan jika sosiologi terapan Sajogyo
dapat bersesapa dengan apllied science yang saat itu dibutuhkan
oleh pemerintah. Fokus dan tema gagasan Sajogyo tidak pernah
keluar dari kerangka pembangunan yang diagendakan pemerin-
tah, namun justru masuk dan berusaha mempengaruhi arah dan
perhatiannya, dan tentu saja: mengkiritiknya.
Agar tidak tersubjugasi menjadi sosiologi yang semata-mata
mendukung kekuasaan dalam melaksanakan pembangunan yang
saat itu menjadi ideologi mainstream, maka dibutuhkan bangun
pengetahuan yang kokoh. Di sinilah sosiologi terapannya men-
dasarkan diri pada sosiologi empiris. Empiris ala Prof. Dr. Ir.
Sajogyo yang ditunjukkan melalui alat survei dan statistika yang
ketat, dalam kenyataannya berhasil menghindarkan diri pada
positivisme. Metode empiris itu berhasil menjadi metode yang
bervisi emansipatoris: ditunjukkannya kenyataan empiris (nyata)
tentang masyarakat lapis bawah yang selalu diabaikan bahkan
menjadi korban dari berbagai kebijakan dan produk pengetahuan
status quo, agar selanjutnya dapat diposisikan sebaga subyek.
Selain otoritas pengetahuan, dari sisi personalitas dibutuh-
kan karakter yang kuat, keuletan, stamina yang tangguh, tanpa
prasangka, tidak mudah tergoda oleh materi, dan senang berbagi,
agar mampu senantiasa mengajak ketiga ranah itu terus-menerus
berinteraksi dan menciptakan critical collaboration.
268

