Page 30 - Komunikasi Strategis
P. 30

memandang simbol yang berkenaan dengan rasisme berbeda dari
                  mereka yang tidak pernah mengalami diskriminasi ras.
              8.  Refleksi diri (self­reflexivity). Simbol atau makna yang muncul sering
                  kali merupakan refleksi pengalaman pribadi. Hal ini berhubungan
                  dengan acuan diri. Dalam merespons pesan komunikasi, penga-
                  laman masa lalu secara tidak sadar (refleks) muncul dan digunakan
                  sebagai acuan diri.
              9.  Keniscayaan (inevitability). Komunikasi  membawa sifat sebagai
                  sesuatu yang tidak dapat dihindari (inevitabilty). Begitu orang-orang
                  saling berinteraksi, meskipun hanya diam tanpa kata, komunikasi
                  (proses bertukar  informasi atau  saling memahami pesan)  terjadi
                  saat itu juga, apalagi ketika berbicara atau bertukar pesan.

                  Dengan demikian, fenomena gunung es memunculkan banyak faktor
              yang dapat dipertimbangkan dalam menyampaikan pesan. Teman bicara
              tidak dapat dipandang sebagai tubuh yang netral atau bebas nilai, tetapi
              harus dilihat sebagai pribadi yang sarat dengan pengalaman pribadi dan
              nilai budaya. Setiap orang mungkin memiliki “nilai” dan “kebiasaan” yang
              berbeda. Oleh karena itu, kesamaan makna diharapkan dapat tercapai
              melalui komunikasi. Hal itu sesuai dengan arti komunikasi yang secara
              etimologis berasal dari kata  communication (Inggris) =  communicatus
              (Latin) yang berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama”. Menurut ahli
              kamus bahasa, Lexicographer, komunikasi memiliki makna sebagai “suatu
              upaya yang bertujuan untuk berbagi guna mencapai kebersamaan”.
                  Fenomena gunung es kemudian memunculkan asumsi bahwa men-
              cari kesamaan makna dalam komunikasi tidak mudah dilakukan. Banyak
              hal yang perlu diperhitungkan, terutama aspek psikologi sosial komuni-
              kan. Seorang komunikator yang baik biasanya selalu dapat "membaca"
              dengan tepat siapa kawan bicaranya, sehingga ia dapat menyampaikan
              pesannya  secara  efektif  dan  efisien.  Di  samping  itu,  kelengkapan  ele-
              men dasar komunikasi juga tidak dapat menjamin kelancaran eksekusi
                komunikasi. Komunikator yang mengirimkan pesan kepada komunikan
              (penerima) melalui saluran komunikasi belum tentu mendapatkan dam-
              pak sesuai dengan yang diharapkan. Dalam pelaksanaannya, komunikasi
                tidak dapat bersifat linear dan sering terhambat oleh berbagai gangguan
              (noise).



              18   Komunikasi Strategis
   25   26   27   28   29   30   31   32