Page 319 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 319
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
1956. Pak Dian adalah cucu KH Abdul Mannan, pendiri Pesant-
ren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta.
Sejak berusia 8 tahun. Ia tinggal di Pesantren Al-Muayyad
Mangkuyudan Surakarta, belajar kepada pamannya, KH Ahmad
Umar Abdul Mannan, yang biasa disapa Mbah Umar, salah seo-
rang ulama besar Al-Quran di era tahun 1950-1980-an. Sejak
Ahad, 8 Oktober 1972 ia menjalani pendidikan pesantren di
bawah asuhan pamannya itu.
Kedekatan dan kebersamaan yang cukup lama dengan Mbah
Umar memberikan banyak pelajaran berharga baginya. Meski-
pun tinggal di pesantren yang diasuh oleh pamannya, tak sampai
setahun ia tinggal di rumah paman, selebihnya di asrama ber-
sama santri-santri yang lain, dan belajar hidup mandiri dan se-
derhana. Hal tersebut nampak dari ketekunan dan keuletannya
dalam belajar dan menjalani kehidupannya di pesantren.
“Kiai Umar Abdul Mannan, bagi saya beliau adalah sosok yang
menginspirasi. Saya ceritakan salah satu kisah beliau, pernah
suatu ketika beliau mendapat kiriman surat bertinta merah.
Diperlihatkannya surat tersebut kepada saya, isinya begitu keras
dan kasar bahasanya. Gus Dian bertanya: “Lantas bagaimana,
Pakdhe?” Pakdhe, sang paman, itu menjawab: “Saya akan so-
wan kepada sang pengirim,” kenang Gus Dian mengisahkan.
Akhirnya Kiai Umar justru sowan (menemui) kepada sang pen-
girim surat. Meminta klarifikasi atas surat tersebut. Dan tidak
ada lagi konflik setelahnya. Inilah salah satu teladan keluhuran
dari beliau. Itu membekas sekali di benak sang keponakan, se-
tiap orang akan mengeluarkan sesuatu sesuai isi hatinya. Kisah
ini pula yang menjadi salah satu inspirasi Kiai Dian, untuk me-
nekuni isu-isu perdamaian dan mediasi.
| 305

