Page 318 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 318
KH Mohammad Dian Nafi’ | Pegiat Kemanusiaan dan Literasi
Usai salat berjamaah, kami dipersilakan untuk menuju ke aula
pondok. Rencananya, kali ini kami akan menemui sang penga-
suh pondok, KH Mohammad Dian Nafi’. Pak Dian, begitu para
santri biasa memanggilnya, menyambut kami dengan hangat.
Segelas teh dan beberapa camilan yang disuguhkan, menemani
obrolan kami.
“Pondok ini berawal dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyu-
dan Surakarta yang didirikan kakek saya, KH Abdul Mannan
tahun 1930. Dalam perkembangannya para sesepuh merasa per-
lu membuat pesantren lanjutan khusus untuk para mahasiswa,”
ungkap dia.
Bagi Pak Dian, begitu sapaan akrab para santri kepada pria kela-
hiran Sragen pada 4 April 1964 itu, dunia pesantren menjadi ba-
gian yang tak terpisahkan dalam kehidupannya. Semenjak masa
kecil ia tumbuh besar di pondok pesantren. Ayahnya bernama
KH Ahmad Djisam Abdul Mannan, perintis Pesantren An-Na-
jah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah. Sedangkan ibunya adalah
Hj Siti Fathonah binti Barmawi, lulusan Al-Muayyad tahun
| 304

