Page 325 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 325
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Ketika itu, daerah yang dikunjungi Kiai Dian bersama tim, ham-
pir seluruh rumahnya sudah rata dengan tanah.
Di sana pun Kiai Dian bertemu dengan seorang imam masjid,
yang kemudian mengisahkan peristiwa kala sang imam terjeb-
ak dalam kepungan di pagi buta. Pengepung menghunus senjata
tajam. Menyadari posisinya yang terjepit, akhirnya sang imam
pun berpasrah diri kepada Allah SWT. Ia ingat doa ‘Akasyah
yang diajarkan gurunya di Banggai Kepulauan, tetapi ia lupa la-
falnya. Yang keluar dari mulut sang Imam adalah “Allah … Al-
lah … Allah”. Sang imam menerobos kepungan, berjalan perla-
han-lahan, kemudian lari, dan sampai di jalan raya Desa Tahane,
ia diselamatkan tentara yang segera mengangkutnya ke dalam
truk, menuju ke Sidangoli, kemudian menyeberang ke Ternate.
Sang Imam Masjid menyesal sekali buku doa itu ikut terbakar.
Dian Nafi’ perlahan meraih sebuah buku doa. Majmu’ Syarif
judulnya. Itu buku saku. Isinya kumpulan doa, wirid, dan surah-
surah Al-Quran, yang selalu dibawanya setiap bepergian. Sang
Imam kaget. Buku semacam itulah yang ia maksud. Sang Imam
gembira sekali menerima. Menurutnya, itu lebih dari sekadar
kenang-kenangan.
Hari-harinya mendampingi korban kerusuhan, belakangan mem-
buatnya bersyukur atas latar belakangnya sebagai santri. Budaya
pesantren yang ramah pada perbedaan, tutur Kiai Dian, telah
membekalinya wawasan bahwa di balik kemajemukan terdapat
potensi besar untuk membangun integrasi bangsa Indonesia.
Menurut Kiai Dian Nafi’, keunikan gaya pendidikan pesantren
telah membangun kemampuan perseptual dalam diri para santri,
yakni kemampuan memahami realitas yang melintasi batas ke-
wajaran. Pergulatan yang intens dengan teks-teks kenabian, juga
| 311

