Page 361 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 361
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
Gus Dur pernah menyebutnya sebagai “pribumisasi Islam”,
translasi gagasan terkait banyak unsur, politik dan startegi pen-
erjemahan gagasana sehingga sampai kepada masyarakat, atau
memiliki persambungan dengan kebutuhan dan pengalaman
masyarakat sehingga dengan sendirinya mendorong perubahan.
Jadul berusaha menyusun suatu model belajar di pesantren yang
mendorong partisipasi santri dalam mematangkan pemikirann-
ya, dan mendapatkan suasana belajar yang terbuka tanpa terjeb-
ak pada permisifisme.
Bahan-bahan formal pengajaran tetap kombinatif, kitab kuning
dan ilmu sosial kritis. Kitab kuning diperluas, tidak saja ber-
bahas Arab, para santri diajar membaca naskah Jawa, beberapa
suluk dan serat. Para santri diminta terlibat aktif dalam kegiatan
masyarakat sekitar, dan mengelola kegiatan kesenian yang reg-
uler.
Di Kaliopak, selepas ngaji atau mujahadahan rutin, para santri
terlihat ngopi bareng dengan masyarakat. Materi obrolannya ke-
banyakan tentang wayang, musik, sastra, dan pernik sejarah lo-
kal. Mereka tidak sedang menyusun histriografi Islam baru tapi
lebih pada pengenalan lebih dalam tentang kebudayaan lama,
terutama keseniannya.
Para santri mulai terbiasa dengan kesenian. Mereka pernah men-
gadakan pargeleran wayang sebelas malam, sebelas lakon, dan
sebelas dalang di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta pada
tahun 2011, dan dilanjutkan perdua-tahun sekali. Para santri
sering mengadakan pameran seni rupa level nasional. Mereka
terlibat workshop penulisan kesenian dan sebagainya. Kaliopak
juga membentuk komunitas Salawatan Jawa, Salawat Emprak,
dan program literasi Bahasa Jawa.
| 347

