Page 79 - sektorpublik
P. 79
Singapura kembali lagi dinobatkan menjadi salah satu negara
terbaik bagi birokrasi dalam hal efisiensi, pelayanan masyarakat, dan iklim
investasi (hasil survey Political & Economic Risk Consultancy (PERC)
2012). Tidak hanya itu. Singapura juga menjadi contoh yang baik dalam
hal disiplin aparat birokrasi dan penerapan ’’reward and punishment’’ bagi
pegawainya. Padahal pada tahun 1959 ketika Lee Kuan Yew diangkat
sebagai Perdana Menteri, Singapura yang memiliki luas wilayah hanya
400 km persegi sedang dalam kondisi carut marut dengan pengangguran
mencapai 14%. Saat itu tak ada yang dapat diperbuat, kecuali bangkit agar
Negeri “Singa” itu mampu menjadi negara yang makmur. Di Singapura,
birokrasi tampil begitu inovatif. Birokrasi hadir dengan semangat melayani,
inisiatif tinggi, efisiensi atas sumber daya, peningkatan gaji atau bonus
berbasis kinerja, berorientasi pada kepuasan masyarakat, dan
pembaharuan terus-menerus terhadap cara dan hasil kerja.
Pemerintah Singapura juga memberlakukan sistem penggajian
model perusahaan. Pemerintah Singapura memiliki patokan untuk
menentukan gaji eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pertumbuhan ekonomi
menjadi tolak ukur bagi pemerintah dalam menentukan gaji. Ketika kondisi
ekonomi sedang memburuk, pemerintah memotong gaji pegawai negeri
sesuai kemampuan keuangan negara pada saat itu, termasuk gaji perdana
menterinya. Ketika kondisi ekonomi membaik dan pertumbuhan ekonomi
meningkat, Singapura memberikan bonus gaji tambahan. Singapura
menjadi salah satu negara terkaya di dunia dengan Gross Domestic
Product (GDP) pendapatan per kapita $59,936 per tahun. Sukses
pembangunannya adalah dengan rumusan strategi pembangunan
ekonomi global berorientasi keunggulan daya saing dan produktivitas
75

