Page 391 - Candi Indonesia (Jawa)
P. 391

GLOSARI




                      $EKD\DPXGUƗ            :  Salah satu sikap tangan Buddha, duduk bersila dengan mengangkat tangan kanan dimana telapak
                                                tangan menghadap keluar.
                      $GKLVWKƗQD             :  Upacara peresmian arca
                      Adhyaksa               :  Pengawas
                      Agama ĝLZD             :  Agama yang memandang Dewa ĝLZD sebagai dewa tertinggi
                      Agastya                :  Nama salah satu dari tujuh ܀܈L; Agastya adalah ܀܈L yang ‘berjalan’ ke selatan
                      Akolade                :  Hiasan kurawal
                      Aksara                 :  Huruf
                      Aksobhya               :  Dhyani Buddha (Tathagatha) sebelah timur
                      $NVREK\DZLPEKDWLVnjNVPD  :  Tubuh/wujud Aksobhya yang tidak nampak atau gambaran Aksobhya yang paling halus
                      Aliran 0DKƗ\DQD        :  Aliran Buddha dengan fokus tujuan menuju kesempurnaan untuk semua orang
                      Amalaka                :  Hiasan pada candi kulat bergerigi pada pinggirnya

                      Amalaka tinggi         :  Bentuk ragam hias “amalaka” yang meninggi, contoh pada Candi Prambanan
                      Amithaba               :  Thathagatha sebelah barat dengan mudra “GK\DQDPnjGUD”
                      Amoghapasa             :  Bentuk Tantris dari Awalokiteswara. Di Candi Jago sebagai arca perwujudan Raja Wisnuwardhana
                      $P৚WD                  :  Air kehidupan atau air keabadian
                      Anumodha               :  Wakaf
                      $SVDUƗ                 :  Makhluk khayangan digambarkan dengan sikap tribanggha memegang setangkai bunga teratai
                                                merah dan biru
                      Arca                   :  Patung yang menggambarkan dewa-dewa
                      Arca Perwujudan        :  Patung perwujudan dewa tertentu yang merupakan ista dewata (dewa pelindung) raja tertentu ketika
                                                wafat dibuat perwujudannya dalam bentuk dewa tersebut
                      Arikamedu              :  Nama untuk tembikar berasal dari kota pelabuhan kuno Arikamedu di India Selatan, berbentuk piring
                                                besar
                      Arjunawiwaha           :  Kisah bertapa Arjuna di Gunung Mahameru; sebagai hadiah Arjuna menikah dengan bidadari
                      Arupadhatu             :  Alam tidak berupa, tidak berbentuk
                      ƖVDQD                  :  Alas dudukan arca
                      Astadipalaka           :  Penjaga delapan arah mata angin
                      Avidya                 :  Kebodohan, ketidaktahuan
                      Awadana                :  Relief cerita seperti pada Candi Borobudur  seperti cerita Jataka, tetapi tokohnya bukan Buddha
                                                melainkan Pangeran Sudhanakumara

                      $ZDORNLWHĞZDUD         :  Perwujudan Dhyani Bodhisattwa sebagai Dewa Welas Asih, emanasi Dhyani Buddha Amitabha
                                                (sebelah barat)
                      Bahasa Jawa Kuno       :  Bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti dan naskah masa Kerajaan Hindu Buddha
                      Bahasa Sanskerta       :  Bahasa yang berasal dari India, digunakan pada masa awal kerajaan di Indonesia, Kerajaan Kutai,
                                                Tarumanegara, dan beberapa prasasti masa Mataram Kuno
                      Bale Agung             :  Bangunan tempat pertemuan masyarakat untuk membicarakan masalah desa
                      Bale-bale              :  Amben di teras rumah
                      Balustrade             :  Pagar langkan atau dalam bahasa Jawa Kuno disebut vedika











        362
   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395   396