Page 402 - Candi Indonesia (Jawa)
P. 402

Seni  Bangunan Jawa Ten-  :  Seni Bangunan Jawa Tengah Akhir (928-1500 Masehi), seni bangunan Jawa Tengah yang terakhir.
                      gah Akhir                Seni bangunan Lara Jonggrang mulai ditiru oleh pusat kesenian lainnya, seperti di Dieng (Candi
                                               Sembadra dan Candi Srikandi), Candi Sojiwan, Candi Gunung Wukir, Candi Pringapus. Pertumbu-
                                               han seni bangunan Jawa Tengah yang terakhir ini berjalan sampai kira-kira tahun 1500 yang dibukti-
                                               kan oleh seni bangunan Candi Sukuh di Gunung Lawu, dan seni bangunan di Pasar Gede.
                      Seni Bangunan Kesatuan  :  Seni Bangunan Kesatuan (pertengahan abad ke-9 (927)). Disebut “kesatuan” karena Sañjayawamsa
                                               telah bersatu dengan ĝDLOHQGUDZDPVD melalui perkawinan. Terdapat percampuran dengan gaya seni
                                               bangunan gaya Jawa Timur dan gaya seni bangunan dari luar Jawa (?). Candi yang termasuk kelom-
                                               pok ini adalah Candi Puntadewa di Dieng, candi-candi Gedongsongo, Candi Plaosan, Candi Sojiwan,
                                               dan Candi Lara Jonggrang.
                      Seni Bangunan Masa Sañ-  :  Seni bangunan masa Mataram (pertengahan abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-9). Tidak ditemu-
                      jaya                     kan bekas-bekasnya. Vogler menentukan bahwa bangunan masa Sañjaya berakarkan seni bangunan
                                               Pallawa, India Selatan. Seni bangunan ini disebut Seni Bangunan Dieng Kuno
                      Seni Bangunan ĝDLOHQGUD  :  Seni Bangunan ĝDLOHQGUD (pertengahan abad ke-8-pertengahan abad ke-9) merupakan perpaduan un-
                                               sur kesenian Dieng Kuno dan India Utara. Seni Bangunan Sailendra dapat dibagi menjadi dua aliran:
                                               a. Seni Bangunan Dieng Baru, yang tetap meneruskan seni bangunan Dieng Kuno, contoh adalah
                                               bangunan-bangunan di Dieng
                                               b. Seni Bangunan Sailendra-Jawa yang berakarkan seni bangunan India Utara, contoh adalah
                                               candi-candi di daerah Kedu Selatan dan sekitar Prambanan, yaitu Candi Kalasan, Candi Sari, Candi
                                               Lumbung, Candi Sewu, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon.
                      Setra Gandamayu        :  Tempat tinggal %KDWƗUL 'XUJƗ (Ra Nini) berupa kuburan
                      Siddharesi             :  Maharesi
                      Siddhi                 :  Kekuatan spiritual yang tertinggi
                      ĝLOSDĞƗVWUD            :  Salah satu kitab kuno India berisi mengenai aturan pendirian bangunan suci atau arca dsb
                      ĝilpin                 :  Seniman atau agamawan dalam ĝLOSDĞƗVWUD. Ada empat macam ĝLOSLQ yaitu sthapati sebagai arsitek
                                               perencanaan, sutragrahin bertugas menghitung daya tarik dan daya beban, taksaka sebagai ahli pahat
                                               ornamen, relief, bagian-bagian candi, dan vardhakin sebagai ahli lukis dan ornamen.
                      Sima                   :  Pembebasan pajak di satu daerah oleh raja dikarenakan daerah tersebut merawat atau membuat ban-
                                               gunan suci atau desa tersebut dianggap berjasa oleh raja
                      Singha                 :  Singa, sering ditampilkan sebagai motif
                      Sisi genta             :  Merupakan ragam hias arsitektural pada candi Gaya Klasik Tua di mana pada pelipit atau bingkai
                                               candi berbentuk padma (bunga teratai)
                      ĝLZD                   :  Merupakan salah satu dewa Trimurti yang bertugas sebagai penghancur (Lina). ĝLZD dapat pula
                                               digambarkan sebagai 0DKƗJXUX, 0DKƗNƗOD, dan Bhairawa. ĝLZD mempunyai kendaraan khusus
                                               yaitu lembu nandi.
                      ĝLZD 0DKƗGHZD          :  6DODK VDWX EHQWXN ĝLZD  /DNVDQDQ\D \DLWX $UGKDFDQGUDNDSƗOD yaitu bulan sabit di bawah sebuah
                                               tengkorak, yang terdapatkan pada mahkota; mata ketiga di dahi; upawita ular naga; cawat kulit
                                               harimau yang dinyatakan dengan lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya; tangannya
                                               empat, masing-masing memegang camara (penghalau lalat), aksamala (tasbih), kamandalu (kendi
                                               berisi air penghidupan) dan WULVnjOD (tombak yang ujung bercabang tiga).
                      ĝLZD 0DKƗJXUX          :  Disebut juga dengan 0DKƗ\RJL. Laksananya yaitu kamandalu dan trisula; perutnya gendut, berkumis
                                               panjang dan berjanggut runcing
                      ĝLZƗJDPD               :  Kitab mengenai peraturan keagamaan, termasuk bangunan suci dan arca, khususnya agama ĝLZD









                                                                                                                               373
   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407