Page 233 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 233

Dra. Triana Wulandari, M.SI., dkk. (eds.)

                didirikan Badan Penasehat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian
                (BP4). Kemudian pada tahun 1956 bersama-sama dengan
                Kementerian Agama diseleng-gerakan kursus Pendidikan Calon
                Anggota Pengadilan Agama.

                    Pada kongres di Surabaya ini perjuangan untuk terlaksananya
                Undang-Undang Perkawinan telah meningkat sehingga pada
                per-tengahan tahun 1958 Kongres Wanita Indonesia mengirim surat
                kepada Dewan Perwakilan Rakyat maupun Perdana Menteri agar
                membicara-kan Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang telah
                masuk. Di dalam Majelis Permusyawaratan Kongres Wanita
                Indonesia, dibahas pula usul-usul kompromi antara Rancangan
                Undang-Undang Perka-winan dari Parlemen (Ny. Soemari) dan
                Rancangan  Undang-Undang  Perkawinan  Umat  Islam  (dari
                pemerintah). Kongres memperjuangkan pula agar Hari Ibu dijadikan
                Hari Nasional dalam arti seperti Hari Sumpah Pemuda.
                    Dengan memuncaknya perjuangan untuk Irian Barat, Kongres
                menyatakan bahwa perempuan akan ikut aktif dalam usaha
                pengembalian Irian Barat dan untuk itu pada tanggal 22 Desember
                1957 ditanda-tangani Piagam Badan Kerjasama Wanita/Militer.

                    Pada tahun 1958 krisis nasional memuncak dengan
                diproklamasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
                (PRRI) oleh Akhmad Husein pada tanggal 15 Pebruati 1958, disusul
                berdirinya Pergerakan Rakyat Semesta (PERMESTA) yang
                menguasai daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Keadaan
                yang demikian dipergunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI)
                untuk mengadakan subversi.
                    Hal ini terasa pula dalam Pergerakan Wanita Indonesia.
                Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) dalam Kongres di Surabaya
                berhasil duduk pula dalam pimpinan Kongres Wanita Indonesia.
                Sebagai organisasi yang berafiliasi pada PKI, Gerwani mendirikan
                “Gerakan Masa” yang anggotanya terdiri dari organisasi perempuan


                                             201
                                             201
   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238