Page 232 - Perempuan Dalam Gerakan Kebangsaan
P. 232

Perempuan dalam Gerakan Kebangsaan
                                       Perempuan  dalam  Gerakan Kebangsaan
                   Pada kongres tersebut terlaksananya Undang-Undang
               Perkawinan tetap merupakan perjuangan berat, sedangkan perhatian
               pergerakan perempuan di bidang sosial nampak sekali dengan
               dikirimkannya permintaan kepada Menteri Kehakiman agar
               diadakan Pengadilan Anak dan permintaan kepada Menteri
               Perburuhan supaya Peraturan tentang cuti haid tetap dipertahankan.

                   Setelah persiapan yang sekian lama dan berat,  akhirnya,
               Pemilihan Umum (PEMILU) yang pertama diselenggarakan pada
               tanggal 29 September 1955. Dalam PEMILU ini terdapat 39 juta
               rakyat Indonesia yang memberikan suaranya.

                   Dengan selesainya PEMILU itu nampaknya masih belum juga
               tercapai kestabilan pemerintah. Di daerah-daerah timbul perasaan
               tidak senang karena merasa tidak puas dengan alokasi biaya
               pembangunan yang didapat dari Pusat. Mereka membentuk Dewan-
               Dewan Daerah seperti: Dewan Banteng di Sumatera Barat dengan
               pimpinan Letnan Kolonel Akhmad Husein pada tanggal 20 Desember
               1956. Dewan Gajah di Medan dengan pimpinan Kolonel M. Simbolon
               pada tanggal 22 Desember 1956. Dewan Manguni di Manado dengan
               pimpinan Kolonel Ventje Sumual pada tanggal 18 Februari 1957 dan
               lain-lain. Perundingan dengan Belanda mengenai Irian Burat dan
               mengenai Uni Indonesia — Belanda juga belum berhasil, sehingga
               akhirnya pada tanggal 13 Februari 1956 Indonesia memutuskan Uni
               tersebut secara sepihak. Dengan keadaan yang demikian tegangnya,
               pada pertengahan tahun 1957 Pemerintah menyatakan berlakunya
               Keadaan Darurat Perang/SOB (Staat van Oorlog en Beleg).

                   Dalam suasana demikian Kongres Wanita Indonesia mengadakan
               kongresnya di Surabaya pada tanggal 28-30 Nopember 1957. Antara
               kongres tahun 1955 sampai dengan kongres di Surabaya tercapai
               beberapa hasil positif antara lain pada tahun 1955 oleh Kepala
               Jawatan Agama Jawa Barat bersama-sama organisasi-organisasi
               anggota Kongres Wanita Indonesia tingkat propinsi di Bandung


                                             200
                                            200
   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237