Page 53 - Sejarah Bencana Gempa di Sumatera
P. 53
SEJARAH BENCANA GEMPA DI SUMATERA 53
Dapat disimpulkan bahwa kerusakan Gambar 29 Rekaman siklus gempa megathrust
akibat tsunami lebih parah di Bengkulu sampai di Mentawai selama 7 abad terakhir dari
Indrapura daripada di Padang. Memang data koral mikroatoll di tiga lokasi: Sikici,
Simanganya dan Bulasat. Garis miring
dilaporkan bahwa kapal-kapal di Pariaman
adalah perioda antar gempa (“interseismic”)
terlepas dari tambatannya, tapi deskripsinya
yang ditandai oleh penurunan pulau-pulau
menunjukan bahwa gelombang airlaut tidak dengan angka menunjukan besar kecepatan
sampai melewati dam alam di pinggiran penurunan dalam milimeter. Garis vertikal
sungai, seperti halnya tsunami yang terjadi adalah pengangkatan yang berkaitan dengan
pada tahun 1797. Meskipun demikian catatan kejadian gempabumi. Angka menunjukan
besar pengangkatan dalam centimeter. Grafis
sejarah menunjukkan bahwa gelombang
diambil dari Sieh, Natawidjaja dkk (2008).
laut mencapai ketinggian 3-4 meter di Pantai
Padang, yang tentunya cukup untuk menyapu setelah gempa. Runtuhnya dam alam di puncak
wilayah pantai sampai beberapa ratus meter Gunung Kaba di Bengkulu menyebabkan
ke darat. Tapi kelihatannya tidak melanda banjir di lembah-lembah di lereng sebelah
banyak perumahan yang di daerah hulu tenggaranya. Banjir bandang ini menyebabkan
sungai seperti terlihat di peta tahun 1828 hilangnya 90 orang penduduk. Satu kampung
(Gambar 28). tenggelam oleh banjir yang dalamnya sampai
Dua gunung berapi, Marapi dan Kerinci, 20 kaki (~6 meter) dan meninggalkan timbunan
dilaporkan memperlihatkan kenaikan aktivitas lumpur sedalam 7 kaki (2 m lebih).

