Page 759 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 759

dibayar  pengusaha  dan  6  bulan  dibayar  BPJS  Ketenagakerjaan,  ini  dirasa  tidak  masuk
              akal.Karena tanpa membayar iuran tapi BPJS membayar pesangon buruh 6 bulan," jelasnya.
              Said Iqbal bisa memastikan BPJS Naker akan bangkrut atau tidak akan berkelanjutan program
              JKP Pesangon dengan mengikuti skema ini, atau dengan kata lain dibuat aturan baru skema
              pesangon untuk tidak bisa dilaksanakan di lapangan.

              Ketiga, Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau kontrak seumur hidup tidak ada batas
              waktu kontrak. Buruh menolak PKWT seumur hidup.

              Keempat,  outsourcing  pekerja  seumur  hidup  tanpa  batas  jenis  pekerjaan  yang  boleh  di
              outsourcing.

              Padahal sebelumnya, outsourcing dibatasi hanya untuk lima jenis pekerjaan. Buruh pun menolak
              outsourching seumur hidup.
              Menurut  Said Iqbal  , karyawan kontrak dan outsourching seumur hidup menjadi masalah serius
              bagi buruh.

              Dia mempertanyakan, siapa yang akan membayar Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) untuk
              karyawan kontrak dan outsourcing? Tidak mungkin buruh membayar kompensasi untuk dirinya
              sendiri dengan membayar iuran JKP.

              Dalam  RUU  Cipta  Kerja  disebutkan,  buruh  kontrak  yang  mendapai  kompensasi  adalah  yang
              memiliki masa kerja minimal satu tahun.

              "Pertanyaannya, bagaiamana kalau pengusaha hanya mengontrak buruh di bawah satu tahun?
              Berarti buruh kontrak tidak akan mendapatkan kompensasi," ungkapnya.

              Said Iqbal menilai jika perusahaan mengontrak buruh di bawah satu tahun, tidak akan mungkin
              agen outsourcing bersedia membayar JKP buruh.

              Terlebih  kalau  outsourcing  dikontrak  agen  di  bawah  satu  tahun  atau  perusahaan  pengguna
              pekerja outsourcing mengembalikan ke agen sebelum habis masa kontraknya, makin tidak jelas
              siapa yang harus membayar JKP-nya.

              Kemudian,  siapa  yamg  membayar  upah  sisa  kontrak  dari  karyawan  kontrak  dan  pekerja
              outsourcing,  jika  kontraknya  diputus  di  tengah  jalan  sebelum  habis  masa  kontrak  yang
              diperjanjikan pengusaha.

              Satu hal yang pasti menurut  Said Iqbal  , dengan DPR setuju dengan karyawan kontrak dan
              pekerja outsourcing seumur hidup, berarti istilah no job security atau tidak ada kepastian kerja
              bagi buruh Indonesia.

              Lalu,    Said  Iqbal    mempertanyakan,  di  mana  kehadiran  negara  dalam  melindungi  Buruh
              Indonesia, termasuk melindungi rakyat yang masuk pasar kerja tanpa kepastian masa depannya
              dengan dikontrak dan outsourcing seumur hidup.

              "Sekarang saja jumlah karyawan kontrak dan outsourcing berkisar 70 - 80 persen dari total buruh
              yang bekerja di sektor formal. Dengan disahkannya Omnibus Law, apakah mau dibikin 5-15
              persen  saja  jumlah  karyawan  tetap?  No  job  security  untuk  Buruh  Indonesia,  apa  ini  tujuan
              investasi?," tegasnya.

              Kelima, Buruh Indonesia menolak waktu kerja tetap eksploitatif.

              Keenam, Buruh Indonesia juga menolak hak cuti hilang dan hak upah atas cuti hilang.


                                                           758
   754   755   756   757   758   759   760   761   762   763   764