Page 762 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 762

OMNIBUS LAW, BURUH ANGGAP PEMERINTAH PENGHAMBA KAUM MODAL

              Elemen  buruh yang  tergabung  dalam  Gerakan  Buruh  Bersama  Rakyat  (   GEBRAK   )  menilai
              kesepakatan soal Rancangan Undang-undang (RUU)  Omnibus Law Cipta Kerja  membuktikan
              bahwa Pemerintah dan DPR menghamba kaum modal dan tak peka masyarakat kecil.

              Pasalnya, peningkatan investasi tak selalu berkorelasi dengan penciptaan lapangan kerja.

              "Alasan Pemerintah atas pembuatan Omnibus Law untuk menarik investasi dan menciptakan
              lapangan kerja jelas keliru besar. Sebab pendewaan pada investasi tidak serta merta mendorong
              penciptaan lapangan kerja," kata Juru bicara Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Benny Wijaya
              kepada  CNNIndonesia.com  , Senin (5/10).

              Sebelumnya, Pemerintah dan DPR secara resmi menyetujui untuk membawa RUU Cipta Kerja
              untuk disahkan dalam rapat paripurna DPR setelah menyepakati semua subtansi dalam rapat
              kerja pada Sabtu (3/10) malam.

              Hal ini disetujui oleh tujuh fraksi yang ada di DPR. Hanya dua fraksi yang menolak, yaitu Fraksi
              Demokrat dan F-PKS.

              "Pemerintah  dan  DPR  hari  ini  adalah  penghamba  kaum  modal  dan  tidak  peka  terhadap
              penderitaan  kaum  buruh,  petani,  nelayan,  masyarakat  adat  dan  rakyat  kecil  lainnya  akibat
              dampak pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi yang tengah berlangsung," cetus Benny Wijaya.

              Benny lantas membeberkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Bahwa, sejak
              tahun 2013 hingga 2019 investasi yang masuk ke Indonesia terus naik. Namun, itu berkorelasi
              negatif dengan penyerapan tenaga kerja.

              Pada tahun 2016, investasi asing US$28,96 miliar masuk dan menyerap 951.939 tenaga kerja.
              Pada Triwulan I 2019, investasi senilai US$29,31 miliar hanya menyerap 490.368 tenaga kerja.
              "Sejatinya, omnibus law dibuat untuk memberikan karpet merah pada investor dan memperluas
              kekuasaan oligarki untuk semakin menghisap mayoritas rakyat," simpul Benny.

              Tidak hanya itu, Benny juga menyoroti dalih memudahkan perizinan dan pengadaan tanah dalam
              RUU Cipta Kerja bakal berdampak pada meningkatnya perampasan tanah dan konflik agraria.

              Tanah dan kekayaan agraria, kata Benny, hanya dijadikan barang dagangan yang dapat diambil
              atau digusur paksa demi kepentingan investor dan kelompok bisnis.

              Benny  juga  menyatakan  RUU  Cipta  Kerja  bisa  menghidupkan  kembali  konsep  "Domein
              Verklaring" seperti yang dilakukan pemerintahan kolonial Belanda.

              Hal itu tertuang melalui Hak Pengelolaan (HPL) yang bisa memberikan izin HGU secara langsung
              90  tahun  kepada  pelaku-pelaku  monopoli  tanah  di  Indonesia.  Situasi  ini  akan  semakin
              memperparah ketimpangan penguasaan tanah di Indonesia.

              "Pemerintah dan DPR justru dengan sengaja menumbalkan nasib mayoritas kaum rakyatanya
              demi kepentingan oligarki dan kaum pemodal melalui RUU Cipta Kerja," kata dia.

              Senada, Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati menilai
              RUU Cipta Kerja hanya menguntungkan pengusaha ketimbang masyarakat kecil.






                                                           761
   757   758   759   760   761   762   763   764   765   766   767