Page 765 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 765

Formulasi upah minimum sendiri mengacu pada variabel ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi
              maupun inflasi. Kesepakatan semula, frasa yang digunakan panja baleg maupun pemerintah
              adalah upah minimum yang dihitung dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

              Artinya jika pertumbuhan ekonomi Indonesia normalnya berada di angka 5 persen dan inflasi di
              kisaran  3  persen,  besaran  penyesuaian  upah  minimum  yang  bisa  diterima  oleh  buruh  bisa
              mencapai angka 8 persen.

              Namun, dalam pembahasan terakhir, kata "dan" dalam klausul penentuan upah minimum itu
              diubah menjadi "atau". Ketentuan ini memberikan ruang kepada penentu kebijakan pengupahan
              untuk memilih pertumbuhan ekonomi atau inflasi untuk menentukan besaran upah minimum.

              Dengan pengambilan basis yang sama dengan yang di atas, besaran upah minimum yang akan
              diperoleh buruh atau pekerja hanya berada di angka 3 persen - 5 persen.

              Seperti  diketahui,  pemerintah  dan  DPR  terus  kejar  setoran  untuk  segera  menyelesaikan
              pembahasan  Rancangan  Undang-Undang  (RUU)  tentang  Cipta  Kerja  (Ciptaker)  yang  syarat
              dengan kontroversi.

              Sabtu malam (3/10/2020) kemarin, Badan Legislasi (Baleg) DPR yang dipimpin langsung Ketua
              Baleg  DPR  Supratman  Andi  Atgas  dan  pemerintah  di  bawah  koordinasi  Menteri  Koordinator
              Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah menyetujui untuk membawa RUU Ciptaker ke
              tingkat dua atau paripurna pada pekan depan.

              "Saya meminta persetujuan dadi masing-masing anggota dan pemerintah, apakah RUU Ciptaker
              untuk  disetujui  di  tingkat  selanjutnya?,"  tanya  Supratman  kepada  anggota  Baleg,  Sabtu
              (4/10/2020).

              "Setuju," jawab anggota yang hadir malam itu.
              Meski hampir sebagian besar anggota dan fraksi menyetujui konsep RUU Ciptaker. Namun, dua
              fraksi yakni PKS dan Demokrat menolak untuk membawa RUU Ciptaker ke tingkat paripurna.

              Pihak Demokrat yang diwakili salah satu anggota partainya yakni Hinca Panjaitan menganggap
              bahwa  pengesahan  RUU  Ciptaker  kurang  tepat  di  tengah  kondisi  masyarakat  yang  sedang
              mengalami kesusahan akibat pandemi covid - 19.

              "Kami menyatakan menolak pembahasan RUU ini," kata Hinca.

              Hinca  menilai  masih  banyak  substansi  RUU  yang  bisa  dibahas  lebih  detil  dan  komprehensif.
              Pengesahan RUU Ciptaker dalam waktu dekat dianggap terburu-buru dan tidak  urgent  ketika
              masyarakat masih dilanda kesusahan akibat pandemi.

              Hal serupa juga disampaikan oleh fraksi PKS Leida Hanifa Amaliah, senada dengan Hinca dia
              juga menilai pembahasam RUU Ciptaker seharusnya bisa dibahas secara detil dan komprehensif.

              Adapun, tujuh fraksi lainnya yakni PDI Perjuangan, Gerindra, Golkar, Nasdem, PAN, PPP, dan
              PKB telah menyepakati bahwa pembahasan RUU ini bisa dilanjutkan ke tingkat paripurna.













                                                           764
   760   761   762   763   764   765   766   767   768   769   770