Page 842 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 842

AIRLANGGA: RUU CIPTAKER PULIHKAN EKONOMI

              Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini, RUU Ciptaker bermanfaat besar
              untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. RUU itu juga dinilainya bisa membawa Indonesia
              menuju negara yang adil, makmur, dan sejahtera.

              "RUU Cipta Kerja telah berhasil mengatur dan menerapkan satu peta (one map policy) yang
              dituangkan dalam RT/RW yang mengintegrasikan tata ruang darat, tata ruang pesisir dan pulau-
              pulau kecil, tata mang laut, serta tata mang kawasan, terutama kawasan hutan," ujar Airlangga
              dalam keterangan resminya, Ahad (4/10).

              Lewat  RUU  ini,  menurut  dia,  pemerintah  pusat  bersama  dengan  pemerintah  daerah  akan
              mempercepat penetapan rencana detail tata ruang (RDTR) dalam bentuk digital.

              Cakupan  materi  dari  RUU  Cipta  Kerja,  Airlangga  menyebut,  memang  sangat  luas.  Semula
              mencakup 79 undang-un-dang, tapi selama pembahasan berubah menjadi 76 undang-undang
              saja.

              Airlangga juga mengeklaim RUU Cipta Kerja mendukung UMKM lewat kemudahan dan kepastian
              dalam proses perizinan dan pendaftaran. Selain itu, pendirian koperasi juga dimudahkan dan
              dibolehkan melaksanakan prinsip usaha syariah dan dapat memanfaatkan teknologi.

              RUU Ciptaker, menurut dia, juga mendorong percepatan dan kepastian dalam proses sertifikasi
              halal.  Selain  itu,  kata  dia,  ada  juga  kepastian  pemanfaatan  atas  ketelanjuran  lahan  dalam
              kawasan hutan lahan. Bagi nelayan juga telah diatur penyederhanaan perizinan berusaha untuk
              kapal perikanan. Terkait pekerja, menumt Airlangga, RUU Ciptaker memberikan kepastian dalam
              pemberian pesangon.

              Sebaliknya, ekonom INDEF Bhima Yudistira, menilai UU Ciptaker ini sama sekali tidak membantu
              dalam pemulihan ekonomi pada masa resesi. "Gelombang penolakan pasti terjadi dan bukan
              hanya  buruh,  melainkan  juga  elemen  lain  yang  merasa  dirugikan  haknya.  Mulai  dari  petani
              karena ada klausul impor pangan disamakan dengan produksi pangan dan cadangan nasional
              sampai masyarakat adat yang merasa dirugikan dalam persoalan izin lahan," ujar Bhima kepada
              Republika, .Ahad (4/10).

              Ia memaparkan, ada tiga masalah terkait hal ini. Pertama, RUU Ciptaker mengubah ratusan pasal
              sehingga butuh ribuan aturan teknis mulai level PPsampai peraturan menteri dan perda yang
              berubah. "Inijustru memberi ketidakpastian karena banyaknya aturan yang berubah di tengah
              situasi resesi ekonomi. Padahal investor butuh kepastian," kata Bhima.

              Kedua, aksi penolakan RUU Ciptaker bisa merusak hubungan industrial di level paling mikro atau
              di  tingkat  perundingan  perusahaan  (bipartit).  Selain  itu,  investasi  juga  tidak  akan  langsung
              masuk  ke  Indonesia  karena  banyak  variabel  lain  yangjadi  pertimbangan,seperti  keseriusan
              pemerintah  dalam  pemberantasan  korupsi,  efektivitas  insentif  fiskal  dan  nonfiskal,  atau
              ketersediaan bahan baku dan biaya logistik. "Investor di negara maju sangat menjunjung fair
              lalwur  practice  dan  decent  work  di  mana  hak-hak  buruh  sangat  dihargai,  bukan  sebaliknya.
              Menurunkan hak buruh berarti bertentangan dengan prinsip negara maju," ujar dia.


              Sedangkan anggota Baleg DPR dari Fraksi Demokrat, Hinca Pandjaitan mengatakan, pihaknya
              menolak  karena  pembahasan  RUU  Ciptaker  terkesan  terburu-buru.  "Kami  menyarankan
              dilakukan pembahasan lebih utuh dan melibatkan berbagai stakeholder yang berkepentingan,"
              kata Hinca.

              Selain  itu,  mereka  juga  mengkritik  substansi  rancangan  undang-undang.  Di  antaranya  soal
              ketidakadilan di ketenagakerjaan, dan lemahnya perlindungan lingkungan hidup dan pertanahan.


                                                           841
   837   838   839   840   841   842   843   844   845   846   847