Page 845 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 845

"Saya  meminta  persetujuan  kepada  seluruh  anggota  dan  pemerintah  apakah  Rancangan
              Undang-Undang  tentang  Cipta  Kerja  ini  bisa  kita  setujui  untuk  kita  teruskan  pengambilan
              keputusannya di tingkat selanjutnya?" kata Ketua Badan Legislasi Suprat-man Andi Agtas dari
              Fraksi  Gerindra  yang  kemudian  dijawab,  "Setuju!"  oleh  sebagian  anggota  DPR  yang  hadir.
              Persetujuan  disampaikan  Fraksi  PDIP,  Golkar,  Gerindra,  Nas-dem,  PKB,  PAN,  dan  PPP.
              Sementara itu, Fraksi Demokrat dan PKS menyatakan menolak.

              Draf RUU Ciptaker yang merupakan usulan pemerintah dilayangkan ke parlemen pada Februari
              lalu. Usulan itu tak lama setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan wacana pembentukan
              omnibus law alias regulasi sapu jagat untuk menggenjot perekonomian.

              Secara garis besar, RUU Cipta Kerja terdiri atas 15 bab dan 174 pasal. Adapun yang dibahas
              mencakup peningkatan ekosistem investasi dan kemudahan perizinan hingga perlindungan serta
              pemberdayaan  UMKM  dan  koperasi.  Isu  ketenagakerjaan,  riset  dan  inovasi,  kemudahan
              berusaha, serta pengadaan lahan juga menjadi bagian dalam beleid ini. Cakupan berikutnya,
              kawasan ekonomi, investasi pemerintah pusat dan proyek strategis nasional, serta dukungan
              administrasi pemerintah.
              Baleg DPR memasukkan RUU tersebut sebagai prioritas Program Legislasi Nasional Tahun 2020
              dan memulai pembahasan pada 14 April. Artinya, jika jadi disahkan pekan ini, RUU tersebut
              dibahas selama tujuh bulan saja. Waktu itu tergolong lekas jika mengingat RUU Cipta Kerja
              mencakup revisi seribuan pasal di 76 undang-undang dengan daftar inventaris masalah (DIM)
              sebanyak 8.000 poin.

              Wakil  Panitia  Kerja  (Panja)  Baleg  Willy  Aditya  mengatakan,  ada  sejumlah  hal  pokok  yang
              disepakati dalam rapat panja. Di antaranya penataan dan perbaikan sistem perizinan berusaha
              berdasarkan sistem presidensial

              Kedua,  kewenangan  pemda  tetap  dipertahankan  sesuai  dengan  asas  otonomi  daerah  dalam
              bingkai NKRI. "Ketiga, konsep RBA (risk based approach) menjadi dasar dan menjiwai RUU Cipta
              Kerja serta sistem perizinan berusaha berbasis elektronik," ujar politikus Nasdem tersebut.
              Keempat, disepakati juga soal kebijakan kemudahan berusaha untuk semua pelaku usaha, mulai
              dari UMKM, koperasi, sampai usaha besar. DPR dan pemerintah juga menyepakati integrasi satu
              peta nasional yang meliputi wilayah darat dan laut

              Keenam, disepakati bahwa RUU Cipta Kerja juga mengatur perlindungan dan kepastian hukum
              bagi tenaga kerja. Ketujuh, RUU Cipta Kerja juga mengatur mengenai kebijakan kemudahan
              berusaha di kawasan ekonomi, pelaksanaan investasi pemerintah pusat dan proyek strategis
              nasional, serta pelayanan administrasi pemerintahan untuk memudahkan prosedur birokrasi.

              Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi kinerja Panja RUU
              Cipta Kerja yang menurutnya bekerja secara transparan. Airlangga mencatat rapat berkaitan
              pembahasan RUU Cipta Kerja total sebanyak 63 kali. Perinciannya, rapat panja digelar 55 kali,
              rapat timus (tim perumus)/tim-sin (tim sinkronisasi) 6 kali, rapat panja 1 kali, dan rapat kerja 1
              kali.  "Ditambah  lagi  kerjanya  tidak  mengingat  waktu,  Sabtu  pun  kerja,  Ahad  kerja,  bahkan
              sampai malam, bahkan kadang-kadang ada padam listrik," kata Airlangga disambut gelak tawa
              anggota dewan.

              Sementara itu, anggota Baleg DPR Fraksi PKS, Ledia Hanifa Amaliah, menyatakan penolakan
              karena pembahasan RUU membatasi aksas dan partisipasi masyarakat. "Pembahasan DIM yang
              tidak  runtut  dalam  waktu  yang  pendek  menyebabkan  ketidakoptimalan  dalam  pembahasan.
              Padahal, undang-undang ini akan memberikan dampak luas bagi banyak orang, bagi bangsa ini,"
              ujarnya.



                                                           844
   840   841   842   843   844   845   846   847   848   849   850