Page 863 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 863

Jakarta, mereka menyatakan jika Omnibus Law ini tidak memiliki nilai urgensi dan kegentingan
              memaksa di tengah krisis pandemi ini.
              Menanggapi  adanya  penolakan  tersebut  maka  Menko  Perekonomian  menyatakan  bahwa
              Omnibus  Law  adalah  produksi  UU  (Undang-Undang),  bukan  Perppu  (peraturan  pemerintah
              pengganti undang-undang).

              "Jadi dalam kaitannya untuk menangani pandemi Covid-19 yang saat ini terjadi, Pemerintah telah
              mengeluarkan Perpu 1 tahun 2020," kata Airlangga, Minggu (4/9/2020).

              Perppu  ini berisi  tentang  Kebijakan  Keuangan Negara  dan  Stabilitas  Sistem  Keuangan  untuk
              Penanganan  Pandemi  Corona  Virus  Disease  2019  (COVID-19)  dan/atau  dalam  Rangka
              Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem
              Keuangan.

              Kemudian oleh DPR RI, Perppu 1 tahun 2020 ini disetujui untuk menjadi UU no 2 tahun 2020
              yang berisi tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara
              dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau dalam Rangka
              Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem
              Keuangan menjadi Undang-Undang.

              Alasan yang diajukan oleh Partai Demokrat tersebut dinilai kurang relevan karena selama masa
              pandemi, pemerintah sudah membuat Perppu 1 tahun 2020 yang kini ditetapkan menjadi UU no
              2 tahun 2020 untuk menangani pandemi Covid-19.

              "Untuk saat ini pemerintah menangani langsung melalui Perpu I tahun 2020 atau UU no 2 tahun
              2020," ujarnya.

              Bahkan  terkait  pandemic  Covid-19,  dana  sektor  kesehatan  dikeluarkan  sebesar  86.64  triliun
              rupiah. Dana tersebut termasuk penambahan alokasi untuk uang muka vaksin serta pengadaan
              sarana  prasarana  dan  pembelian  alat  kesehatan  senilai  Rp17.2  triliun,  yang  dinilai  sangat
              mendesak pada masa pandemi ini.

              Sementara untuk dana untuk perlindungan sosial selama Pandemi Covid-19, ditetapkan sebesar
              242.15 triliun rupiah.

              "Bahkan  khusus  untuk  sektor  UMKM  sudah ditetapkan  anggaran  sebesar  128 triliun  rupiah,"
              tuturnya. Dari sejumlah anggaran berikut UU tersebut, pemerintah sudah sangat concern dalam
              menangani dampak akibat pandemi Covid-19.

              Sementara  RUU  Cipta  Kerja  sendiri  adalah  sebuah  Undang-Undang  yang  akan  mengatasi
              Obesitas  Regulasi,  sebagai  legacy  pemerintah  yang  lalu  untuk  dirampingkan  agar  tidak
              memberatkan Rakyat yang ingin berusaha.
              Ada banyak hal yang diatur dan disederhanakan dalam RUU Cipta Kerja yang sudah disetujui
              tujuh fraksi di DPR, minus PKS dan Demokrat.

              "Yang terpenting adalah manfaat yang akan didapat masyarakat setelah berlakunya UU Cipta
              Kerja," ungkapnya.

              "Apalagi dalam UU Cipta Kerja nanti juga menyelesaikan persoalan keterlanjuran masyarakat
              agar  memperoleh  kepastian  berusaha  di  wilayah  kehutanan.  Selain  itu  ada  pula  peran
              pemerintah  untuk  mengeluarkan  jaminan  asuransi  untuk  pekerja  yang  kehilangan  pekerjaan
              dalam bentuk jaringan kehilangan pekerjaan," pungkasnya..




                                                           862
   858   859   860   861   862   863   864   865   866   867   868