Page 98 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 APRIL 2021
P. 98

MUDAH-MUDAHAN THR BURUH 'LANCAR' SEPERTI PNS, TNI DAN POLRI, MENAKER
              IDA FAUZIYAH SEBUT BELUM ADA PENGUSAHA YANG LAPOR TAK SANGGUP BAYAR
              JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengungkap bahwa hingga saat ini, belum
              ada pengusaha yang melaporkan ketidaksanggupannya untuk membayar tunjangan hari raya
              (THR) keagamaan 2021 bagi pekerjanya secara penuh.

              Seperti  diketahui,  pekan  lalu  Kemenaker  mengeluarkan  Surat  Edaran  (SE)  nomor
              N/6/HK.04/IV/2021  tentang  Pelaksanaan  Pemberian  THR  Keagamaan  tahun  2021  Bagi
              Pekerja/Buruh di Perusahaan. SE ini memuat ketentuan bahwa pengusaha wajib membayar THR
              pekerjanya secara penuh atau tidak dicicil paling lambat H-7 sebelum Lebaran tahun ini.

              Namun, pemerintah memberikan kelonggaran bagi pengusaha yang tidak mampu membayar
              THR secara penuh imbas usaha yang belum pulih akibat COVID-19. Pengusaha bisa melaporkan
              kondisi perusahaannya ke Dinas Ketenagakerjaan setempat.

              "Sampai hari ini belum ada perusahaan yang tidak mampu. Karena biasanya terbaca aduan pada
              minggu kedua dan ketiga dan batas akhir pembayaran THR H-7. Jadi pengusaha atau pekerja
              melaporkan pada H-7," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Senin, 19 April.

              Sebelum melapor ke Kemnaker, kata Ida, pengusaha yang tidak sanggup membayar THR secara
              penuh tahun ini harus melakukan dialog lebih dulu dengan para pekerjanya, termasuk secara
              kekeluargaan.

              "Dialog  antara  pengusaha  dan  pekerja  terkait  ketidakmampuan  didasarkan  bukti  laporan
              keuangan  internal  dan  hasil  pembahasan  bipartit.  Dilaporkan  di  dinas  ketenagakerjaan
              setempat," ujarnya.

              Lebih lanjut, Ida mengatakan, pengusaha yang melanggar dengan tidak memberikan THR secara
              penuh dan tepat waktu sesuai dengan aturan perundang-undangan akan mendapatkan sanksi
              administratif dan denda.

              Adapun aturan mengenai sanksi diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker)
              Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari Raya  Keagamaan  Bagi Pekerja  atau  Buruh  di
              Perusahaan. Dalam aturan tersebut, perusahaan yang terlambat membayar THR Keagamaan
              dikenai denda sebesar 5 persen.

              "Sanksi  jika  terlambat  membayar  sesuai  peraturan  perundang-undangan  dikenakan  denda.
              Denda tersebut digunakan untuk kepentingan pekerja atau buruh," jelasnya.

              Karena  itu,  Ida  meminta  semua  pihak  terkait  mendukung  pelaksanaan  pembayaran  THR
              Keagamaan 2021. Termasuk dalam hal ini para pemimpin di daerah. Ia berharap aturan ini bisa
              memuaskan kedua belah pihak yaitu pekerja dan pengusaha.
              "Saya  minta  peran  aktif  gubernur,  bupati,  wali  kota  untuk  melakukan  pengawasan  dan
              menjatuhkan sanksi bagi pengusaha yang melakukan pelanggaran pelaksanaan THR 2021 sesuai
              dengan peraturan undang-undang yang berlaku," tuturnya.













                                                           97
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103