Page 607 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 607

Agus menyebit, UU Cipta Kerja tidak menjamin kepastian hukum dan menjauhkan dari cita-cita
              reformasi  regulasi.  Sebab,  pemerintah  dan  DPR  berkilah  bahwa  RUU  Cipta  Kerja  akan
              memangkas banyak aturan yang dinilai  overregulated.

              ''Namun,  faktanya  akan  banyak  pendeligasian  pengaturan  lebih  lanjut  pada  peraturan
              pemerintah seperti Peraturan Pemerintah (PP) yang justru dikhawatirkan akan memakan waktu
              lama menghambat pelaksanaan kegiatan yang ada didalam UU Cipta Kerja," beber Agus.

              Menurut Agus, DPR dan Pemerintah tidak pro terhadap rakyat kecil khsusunya buruh, sebab
              terdapat  beberapa  pasal-pasal  bermasalah  dan  kontroversial  yang  ada  didalam  Bab  IV
              Ketenagakerjaan UU Cipta Kerja. Sejumlah pasal-pasal bermasalah tersebut diantaranya Pasal
              59  terkait  kontrak  tanpa  batas;  Pasal  79  hari  libur  dipangkas;  Pasal  88  mengubah  terkait
              pengupahan pekerja; Pasal 91 aturan mengenai sanksi bagi pengusaha yang tidak membayarkan
              upah sesuai ketentuan dihapus lewat UU Cipta Kerja; Pasal 169 UU Cipta Kerja menghapus hak
              pekerja atau buruh mengajukan permohonan pemutusan hubungan kerja (PHK), jika merasa
              dirugikan oleh perusahaan.

              ''PB PMII merasa miris DPR dan Pemerintah akan memperkecil kemungkinan pekerja WNI untuk
              bekerja, karena UU Cipta Kerja mengapus mengenai kewajiban mentaati ketentuan mengenai
              jabatan dan kompetensi bagi para Tenaga Kerja Asing (TKA). Dengan disahkannya UU Cipta
              Kerja,  TKA  akan  lebih  mudah  masuk  karena  perusahaan  yang  mensponsori  TKA  hanya
              membutuhkan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), tanpa izin lainnya," urai Agus.
              Terlebih, UU Cipta Kerja juga tidak mencerminkan pemerintahan yang baik (  good governance
              ).  Sebab,  dalam  pembentukannya  saja  sudah  main  kucing-kucingan  dengan  rakyat,  apalagi
              nantinya saat melaksanakan UU Cipta Kerja, bisa jadi rakyat akan di akal-akali dengan UU Cipta
              Kerja.

              "PB PMII  sangat  kecewa  UU  Cipta  Kerja  menghilangkan  point keberatan  rakyat  mengajukan
              gugatan  ke  PTUN  apabila  perusahaan  atau  pejabat  tata  usaha  negara  menerbitkan  izin
              lingkungan  tanpa  disertai  Amdal.  Sangat  jelas  disini,  DPR  dan  Pemerintah  berpihak  pada
              kepentingan korporasi dan oligarki tanpa peduli terhadap kerusakan lingkungan dan kehidupan
              rakyat," sesal Agus.

              "PB  PMII  juga  kecewa  DPR  dan  Pemerintah  mengkapitalisasi  sektor  pendidikan  dengan
              memasukan  aturan  pelaksanaan  perizinan  sektor  pendidikan  melalui  perizinan  berusaha  dan
              diatur lebih lanjut melalui Peraturan Pemerintah. Hal ini termuat dalam Paragraf 12 Pendidikan
              dan Kebudayaan Pasal 65 ayat (1) dan (2) UU Cipta Kerja," tegasnya.

              (  Editor : Dinarsa Kurniawan  Reporter : Muhammad Ridwan   .





















                                                           606
   602   603   604   605   606   607   608   609   610   611   612